![]() |
| Iran bersiap mengumumkan pemimpin tertinggi baru setelah tewasnya Ali Khamenei dalam serangan udara yang memicu eskalasi konflik di Timur Tengah. |
JAKARTA — Iran bersiap mengumumkan pemimpin tertinggi baru setelah tewasnya Ali Khamenei dalam serangan udara yang memicu eskalasi konflik di Timur Tengah. Hingga kini, nama pengganti Khamenei belum diumumkan secara resmi, meski proses pemilihan disebut telah selesai.
Badan ulama yang berwenang menunjuk pemimpin tertinggi Iran, Majelis Pakar Iran, dilaporkan telah mencapai keputusan terkait sosok yang akan menggantikan Khamenei.
“Pemungutan suara untuk menunjuk pemimpin telah berlangsung dan pemimpin telah dipilih,” kata anggota Majelis Pakar, Ahmad Alamolhoda, seperti dikutip Agence France-Presse (AFP) dari kantor berita Mehr Iran, Minggu (8/3/2026).
Menurut Alamolhoda, sekretariat Majelis Pakar akan segera mengumumkan nama pemimpin baru tersebut dalam waktu dekat. Sejumlah anggota majelis lainnya juga mengonfirmasi bahwa keputusan telah diambil, bahkan ada yang menyebut kemungkinan putra mendiang Khamenei ikut dipertimbangkan untuk menduduki jabatan tersebut.
Pengumuman pemimpin baru ini terjadi di tengah memanasnya konflik antara Iran dan aliansi Amerika Serikat–Israel. Serangan udara terbaru dilaporkan menghantam sejumlah depot minyak di ibu kota Teheran, memicu kebakaran besar dengan kepulan asap tebal yang terlihat dari berbagai sudut kota.
Di saat bersamaan, Israel juga mengeluarkan peringatan keras bahwa militernya tidak akan ragu menargetkan pemimpin baru Iran maupun anggota Majelis Pakar yang terlibat dalam proses pengukuhan tersebut.
Sementara itu, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) atau Garda Revolusi Iran mengklaim memiliki persediaan yang cukup untuk melanjutkan perang drone dan rudal di Timur Tengah hingga enam bulan ke depan.
Sejumlah nama disebut-sebut sebagai kandidat kuat pemimpin tertinggi Iran. Salah satunya adalah Alireza Arafi, ulama yang dikenal moderat, fasih berbahasa Inggris dan Arab, serta pernah bertemu Paus di Vatikan.
Nama lain yang masuk bursa adalah Mohammad Bagher Qalibaf, mantan komandan IRGC yang kini menjabat sebagai ketua parlemen Iran. Selain itu ada Ebrahim Raisi yang dikenal dekat dengan Khamenei, serta Sadeq Larijani, mantan kepala lembaga yudisial dengan pengaruh kuat di kalangan konservatif.
Siapa pun yang terpilih, pemimpin baru Iran akan langsung menghadapi ujian berat: memimpin negara di tengah konflik regional yang memanas, sekaligus menghadapi ancaman serangan dari Israel yang telah disampaikan secara terbuka.(*/mb)
