PADANG — Pengukuhan guru besar sering kali dipahami sebatas seremoni akademik yang sarat simbol dan formalitas. Namun bagi Politeknik Negeri Padang (PNP), momen tersebut memiliki makna yang jauh lebih besar: sebagai penegasan peran akademisi tertinggi dalam membangun tradisi intelektual, mencetak teladan, sekaligus menjadi penggerak perubahan di tengah masyarakat.
Pandangan itu disampaikan Direktur Politeknik Negeri Padang, Revalin Herdianto, usai prosesi pengukuhan dua Guru Besar PNP, yakni Prof. Dr. Sir Anderson, S.T., M.T., dan Prof. Dr. Primadona, S.E., M.Si., di Gedung PKM PNP, Kamis (30/4/2026).
Menurut Revalin, pengukuhan guru besar tidak hanya menjadi bentuk penghormatan atas capaian akademik seorang dosen, tetapi juga ruang refleksi bagi seluruh sivitas akademika mengenai arti penting kehadiran profesor di sebuah perguruan tinggi.
“Seorang guru besar, pada hakikatnya, bukan hanya pemegang jabatan akademik tertinggi. Ia adalah figur yang menunjukkan konsistensi dalam mengembangkan bidang keilmuan, membangun tradisi intelektual, serta menghasilkan karya yang berdampak luas,” ujarnya.
Ia menegaskan, tugas seorang dosen tidak berhenti di ruang kelas. Pendidikan tinggi, kata dia, menuntut pengabdian yang utuh melalui tiga pilar utama: pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Ketiga aspek tersebut menjadi ukuran utama dalam perjalanan menuju gelar profesor. Karena itu, pengukuhan guru besar bukanlah hasil instan, melainkan simbol dari proses panjang yang terukur—mulai dari peta jalan akademik yang jelas, fokus riset berkelanjutan, hingga kontribusi nyata yang terus berkembang dari waktu ke waktu.
Bagi Revalin, pesan penting yang harus ditanamkan kepada seluruh sivitas akademika, khususnya dosen muda, adalah bahwa gelar profesor memang menantang, tetapi sangat mungkin dicapai.
“Menjadi guru besar memang tidak mudah, tetapi sangat mungkin dicapai,” katanya.
Ia menilai kehadiran mahasiswa dan dosen dalam prosesi pengukuhan memiliki tujuan strategis, yakni menjadikan momen tersebut sebagai sumber inspirasi. Bahwa jabatan profesor bukan sesuatu yang eksklusif, melainkan target akademik yang dapat diraih melalui perencanaan karier sejak dini.
Menurutnya, pendidikan lanjutan menjadi pintu masuk utama menuju jenjang tersebut. Karena itu, kampus harus membuka akses seluas-luasnya agar dosen dapat melanjutkan studi doktoral, memperkuat kompetensi, dan memenuhi syarat dasar menuju jabatan guru besar.
Revalin mengungkapkan, saat ini persentase dosen bergelar doktor di sejumlah perguruan tinggi vokasi masih berada pada kisaran 11 hingga 14 persen. Angka itu menjadi tantangan sekaligus peluang besar untuk terus ditingkatkan.
Namun ia menekankan, percepatan menuju lahirnya guru besar tidak cukup hanya melalui pemenuhan syarat administratif. Hal yang jauh lebih penting adalah membangun ekosistem akademik yang sehat—ruang yang mendorong penelitian, kolaborasi, dan hilirisasi karya ilmiah.
“Yang lebih penting adalah menciptakan ruang yang mendukung penelitian, kolaborasi, dan hilirisasi karya ilmiah,” jelasnya.
Karena itu, kampus dituntut memperkuat kemitraan dengan industri, pemerintah, dan masyarakat. Dengan kolaborasi tersebut, riset yang dihasilkan dosen tidak berhenti di jurnal ilmiah, tetapi benar-benar menjawab kebutuhan riil di lapangan.
Ia menambahkan, kemitraan strategis juga memastikan karya akademik memberi manfaat langsung bagi masyarakat, termasuk kelompok rentan serta sektor industri yang membutuhkan inovasi.
Bagi PNP, pengukuhan guru besar adalah penanda bahwa perguruan tinggi sedang menyiapkan masa depannya. Profesor tidak hanya dipandang sebagai capaian individu, tetapi sebagai aset strategis institusi dalam memperkuat daya saing akademik.
Pada akhirnya, kata Revalin, makna sesungguhnya dari pengukuhan guru besar terletak pada komitmen membangun budaya akademik yang berkelanjutan—mencetak teladan, memperluas akses pendidikan doktoral, menciptakan ekosistem riset, dan memastikan ilmu pengetahuan hadir untuk kemaslahatan masyarakat.
“Dengan itulah kampus dapat tumbuh sebagai pusat keunggulan yang memberi dampak nyata bagi bangsa,” pungkasnya.(bs)
