Festival Minangkabau 2026 Resmi Dibuka, Budaya Jadi Penggerak Kebangkitan Pariwisata dan Ekonomi Tanah Datar - Sumbar19.com | Mewartakan Dari Penjuru 19 Daerah
arrow_upward

Festival Minangkabau 2026 Resmi Dibuka, Budaya Jadi Penggerak Kebangkitan Pariwisata dan Ekonomi Tanah Datar

Kamis, 25 Juni 2026, 21.12 WIB

Pemukulan gandang tasa menandai pembukaan Festival Minangkabau (FM) 2026 yang digelar Pemerintah Kabupaten Tanah Datar, di pelataran Istano Basa Pagaruyung, Kamis (25/6/2026).

BATUSANGKAR – Festival Minangkabau (FM) 2026 resmi dibuka di pelataran Istano Basa Pagaruyung, Kamis (25/6). Perhelatan budaya yang masuk dalam tujuh event unggulan Sumatera Barat pada Kharisma Event Nusantara (KEN) 2026 itu kembali menjadi ajang pelestarian budaya Minangkabau sekaligus mendorong kebangkitan pariwisata dan ekonomi Kabupaten Tanah Datar.

Pembukaan festival ditandai dengan pemukulan gandang tasa oleh Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah. Hadir dalam kesempatan itu Wakil Menteri Ketenagakerjaan RI Afriansyah Noor Dt. Rajo Basa, Kepala Biro Data dan Sistem Informasi Kementerian Pariwisata Nova Arisne, Raja Pagaruyung Sutan Muhammad Farid Thaib Tuanku Abdul Fatah, Bupati Tanah Datar Eka Putra, Wakil Bupati Ahmad Fadly, serta kepala daerah se-Sumatera Barat.

Gubernur Mahyeldi mengapresiasi konsistensi Pemerintah Kabupaten Tanah Datar dalam menjaga dan melestarikan budaya Minangkabau melalui berbagai kegiatan budaya yang berpuncak pada Festival Minangkabau.

"Festival ini menjadi sarana menghadirkan sekaligus mewariskan nilai-nilai budaya kepada generasi muda. Identitas Minangkabau harus tetap terjaga di tengah perkembangan zaman," ujarnya.

Menurut Mahyeldi, Festival Minangkabau layak menjadi contoh bagi kabupaten dan kota lain dalam menjaga warisan budaya. Ia juga mengajak masyarakat di ranah maupun rantau untuk terus merawat budaya Minangkabau sebagai identitas yang harus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Festival Minangkabau (FM) 2026 resmi dibuka di pelataran Istano Basa Pagaruyung, Kamis (25/6). 

Sementara itu, Bupati Tanah Datar Eka Putra mengatakan Festival Minangkabau telah menjadi agenda tahunan sejak 2016 dan terus berkembang menjadi salah satu event budaya unggulan nasional. Tahun ini penyelenggaraannya dimajukan ke bulan Juni agar bertepatan dengan masa libur sekolah.

"Kami berharap Festival Minangkabau menjadi salah satu destinasi wisata pilihan masyarakat selama musim liburan," katanya.

Eka Putra menyebut Festival Minangkabau telah masuk dalam daftar 125 event terbaik Indonesia sejak 2017. Menurutnya, capaian tersebut menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kualitas penyelenggaraan.

Ia menegaskan, Festival Minangkabau bukan sekadar perhelatan seni dan budaya, tetapi juga upaya membangkitkan kembali nilai-nilai warisan leluhur yang berpadu dengan falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK).

"Festival ini juga menjadi momentum kebangkitan pariwisata Tanah Datar pascabencana. Bangkit budaya, bangkit ekonomi, bangkit pariwisata, dan bangkit pembangunan infrastruktur. Insyaallah Tanah Datar akan pulih dan semakin maju," tegasnya.

Kepala Biro Data dan Sistem Informasi Kementerian Pariwisata, Nova Arisne, menilai Festival Minangkabau merupakan event budaya berkualitas yang digelar di salah satu ikon kebanggaan Sumatera Barat, yakni Istano Basa Pagaruyung.

Menurutnya, festival tersebut menjadi sarana promosi budaya, pelestarian tradisi, sekaligus pengembangan ekonomi kreatif yang mampu meningkatkan daya saing pariwisata Tanah Datar.

Senada dengan itu, Wakil Menteri Ketenagakerjaan RI Afriansyah Noor mengatakan Festival Minangkabau memberikan dampak nyata terhadap pelestarian budaya dan perekonomian masyarakat.

"Saya melihat dampak festival ini sangat besar terhadap perkembangan UMKM, kuliner, transportasi hingga perhotelan. Kehadiran wisatawan akan menggerakkan roda ekonomi masyarakat," ujarnya.

Usai pembukaan, rombongan meninjau stan desa wisata dan pameran benda budaya di Lapangan Cindua Mato, Batusangkar. Berbagai produk UMKM, kuliner, dan kekayaan budaya Minangkabau ditampilkan sebagai bagian dari upaya memperkuat posisi Tanah Datar sebagai pusat sejarah dan kebudayaan Minangkabau. (mb/rel)