UNAND Perkuat Sinergi PTN Barat, Hilirisasi Riset Jadi Prioritas - Sumbar19.com | Mewartakan Dari Penjuru 19 Daerah
arrow_upward

UNAND Perkuat Sinergi PTN Barat, Hilirisasi Riset Jadi Prioritas

Selasa, 21 Juli 2026, 18.19 WIB
Universitas Andalas (UNAND) menjadi tuan rumah dalam Forum Wakil Rektor Bidang Kerja Sama Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Negeri (BKS PTN) Wilayah Barat. 

PADANG, – Sebanyak 25 perguruan tinggi negeri (PTN) dari wilayah barat Indonesia berkumpul di Universitas Andalas (UNAND) dalam Forum Wakil Rektor Bidang Kerja Sama Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Negeri (BKS PTN) Barat. 

Pertemuan ini menegaskan komitmen perguruan tinggi untuk mempercepat hilirisasi hasil riset agar menjadi produk yang bermanfaat bagi masyarakat sekaligus mampu menjawab kebutuhan industri.

Forum yang berlangsung pada 21–22 Juli 2026 di Convention Hall Universitas Andalas tersebut mengusung tema "Praktik Baik Kerja Sama dan Hilirisasi Riset Perguruan Tinggi" dengan semangat "Dari Riset Menuju Industri: Membangun Dampak melalui Kolaborasi dan Inovasi."

Tema ini menjadi penegasan bahwa hasil penelitian perguruan tinggi harus mampu bertransformasi menjadi inovasi yang bernilai ekonomi dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

Wakil Rektor IV UNAND Bidang Perencanaan, Riset, Inovasi, dan Kerja Sama, Prof. Dr. Henmaidi, S.T., M.Eng.Sc., selaku Ketua Panitia, mengatakan perguruan tinggi harus memperkuat kolaborasi agar riset tidak berhenti sebagai publikasi ilmiah.

"Melalui forum ini, kami ingin memperkuat sinergi antaranggota BKS PTN Barat sehingga hasil riset dapat dihilirisasikan menjadi produk yang bermanfaat bagi masyarakat dan memiliki nilai ekonomi," ujarnya.

Selama dua hari, peserta mengikuti keynote speech mengenai kebijakan hilirisasi riset nasional, diskusi eksekutif, sesi berbagi praktik baik, hingga kunjungan ke laboratorium inovasi UNAND dan PT Crown Teknologi Indonesia. Kegiatan tersebut memberikan gambaran nyata bagaimana hasil riset dikembangkan menjadi produk yang siap dimanfaatkan masyarakat melalui kolaborasi dengan dunia industri.

Henmaidi menegaskan, setiap perguruan tinggi memiliki keunggulan yang berbeda sehingga kolaborasi menjadi jalan tercepat untuk melahirkan inovasi yang lebih besar.

Ia mencontohkan keberhasilan Universitas Syiah Kuala yang telah menghasilkan sekitar 35 jenis rapid test untuk berbagai penyakit tropis, seperti malaria, demam berdarah, tifus, hingga kanker serviks. Produk-produk tersebut telah memperoleh izin edar dan diproduksi berkat kolaborasi dengan rumah sakit rujukan nasional serta mitra industri.

"Perguruan tinggi tidak bisa berjalan sendiri. Hilirisasi membutuhkan sinergi dengan rumah sakit, industri, dan berbagai pihak agar hasil riset benar-benar sampai ke masyarakat," tegasnya.

Sementara itu, Ketua Forum BKS PTN Barat, Prof. Dr. Revis Asra, S.Si., M.Si., menyebut tingginya partisipasi peserta menjadi bukti semakin kuatnya semangat kolaborasi antarkampus.

"Yang sudah bergabung ada 25 PTN. Ini lebih banyak dibandingkan pertemuan sebelumnya," katanya.

Menurut Revis, forum ini sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam mewujudkan universitas yang berdampak, yakni kampus yang mampu menghasilkan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Ia menilai UNAND telah membuktikan hal tersebut melalui sejumlah produk hasil riset yang telah dihilirisasikan dan masuk ke e-katalog pemerintah. Selain itu, anggota BKS PTN Barat juga telah menunjukkan keberhasilan lain, seperti minyak nilam produksi Universitas Syiah Kuala yang diekspor ke Prancis sebagai bahan baku industri parfum, serta berbagai produk berbasis gambir yang dikembangkan UNAND, mulai dari tinta, sampo, hingga produk inovatif lainnya.

"Target kami bukan hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi melahirkan lebih banyak produk inovasi yang siap dimanfaatkan masyarakat. Melalui kolaborasi, setiap perguruan tinggi dapat saling melengkapi sehingga lahir produk yang benar-benar berdampak," ujarnya.

Sekretaris Forum BKS PTN Barat, Arif Rahman, menambahkan forum ini diharapkan melahirkan tindak lanjut yang konkret melalui penguatan kerja sama antara perguruan tinggi, pemerintah, dan dunia usaha. Selain rapat internal, peserta juga mengikuti pemaparan dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Sebelas Maret (UNS), serta perwakilan industri mengenai strategi mempercepat hilirisasi hasil penelitian.

Melalui forum ini, BKS PTN Barat berharap terbentuk ekosistem kolaborasi yang semakin kuat sehingga hasil riset perguruan tinggi tidak lagi berhenti di laboratorium, melainkan berkembang menjadi produk inovatif yang mampu meningkatkan daya saing bangsa sekaligus memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.(bs)