![]() |
| Rapat senat terbuka Dies Natalis ke-70 atau Lustrum XIV UNAND di Auditorium Kampus Limau Manis, Senin (14/9). |
PADANG — Tujuh dekade perjalanan Universitas Andalas (UNAND) menjadi momentum untuk memperkuat peran perguruan tinggi tidak hanya sebagai pencetak sumber daya manusia, tetapi juga sebagai penghasil riset, inovasi dan teknologi yang mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat dan perekonomian.
Rektor UNAND Efa Yonnedi menegaskan, hasil penelitian di kampus tidak boleh berhenti di laboratorium, publikasi ilmiah atau sekadar menjadi dokumen paten. Riset harus didorong hingga menghasilkan produk yang dapat digunakan masyarakat dan dikembangkan bersama dunia industri.
Hal itu disampaikan Efa dalam rangkaian Dies Natalis ke-70 atau Lustrum XIV UNAND yang mengusung tema “Tumbuh Berakar, Menjulang Berdampak”, di Auditorium Kampus Limau Manis, Senin (14/9).
Menurut Efa, UNAND saat ini memfokuskan pengembangan riset dan inovasi pada empat bidang strategis, yakni kesehatan dan obat-obatan, pangan, kebencanaan serta energi terbarukan.
“Intinya UNAND pertama di kesehatan, yang kedua di pangan, yang ketiga di kebencanaan, yang keempat di energi. Bidang lainnya mengarah untuk mendukung inovasi di keempat bidang ini,” ujarnya.
Di sektor kesehatan, UNAND telah menghasilkan lebih dari 35 produk di bidang bioteknologi kesehatan. Pengembangan tersebut diarahkan untuk mendukung kemandirian sektor kesehatan nasional, termasuk mengurangi ketergantungan terhadap alat kesehatan dan reagen impor.
Efa menilai, berbagai kebutuhan kesehatan yang selama ini masih didatangkan dari luar negeri sebenarnya dapat diproduksi di dalam negeri melalui hasil riset perguruan tinggi.
“Alat-alat yang selama ini impor, reagen yang selama ini impor, sebenarnya bisa diproduksi oleh anak negeri dengan hasil risetnya. Tinggal sekarang bagaimana industri ataupun pengguna membeli alat-alat ini,” katanya.
Sektor pangan juga menjadi perhatian. Salah satu komoditas yang dikembangkan adalah gambir. Sumatera Barat dikenal sebagai salah satu sentra utama gambir dunia, namun sebagian besar masih diekspor dalam bentuk bahan mentah.
Menurut Efa, kondisi tersebut menunjukkan masih besarnya peluang untuk meningkatkan nilai tambah gambir melalui pengolahan menjadi produk jadi.
“Di bidang pangan, kita penghasil gambir nomor satu di dunia, tapi yang kita ekspor selama ini bahan mentahnya untuk kebutuhan luar negeri. Sebenarnya banyak produk yang bisa dihasilkan dari gambir,” ujarnya.
Untuk mendorong hilirisasi, UNAND bersama PTPN IV telah melakukan feasibility study terkait rencana pendirian pabrik pengolahan gambir di sejumlah daerah, termasuk Pesisir Selatan.
Pengolahan gambir menjadi produk food grade dinilai mampu memberikan nilai ekonomi jauh lebih besar dibandingkan menjual bahan mentah.
Mitigasi Bencana dan Energi
Bidang kebencanaan menjadi fokus berikutnya. Kondisi geografis Sumatera Barat yang rawan gempa, tsunami, longsor, banjir dan berbagai bencana lainnya mendorong UNAND mengembangkan riset yang berkaitan dengan mitigasi dan kesiapsiagaan.
“Karena Sumatera Barat ini rawan bencana, setiap jenis bencana ada. Maka dalam riset kita juga mendorong munculnya inovasi mitigasi kebencanaan dari Universitas Andalas,” kata Efa.
Sementara di sektor energi, UNAND mendorong pengembangan energi terbarukan, salah satunya potensi panas bumi atau geothermal di Pasaman.
“Saat ini ahli UNAND diminta pakarannya untuk mendorong percepatan pembangunan geothermal di Pasaman,” ujarnya.
Empat bidang tersebut menjadi arah utama pengembangan riset UNAND ke depan. Bidang penelitian lainnya diarahkan untuk memperkuat inovasi pada sektor-sektor strategis tersebut.
Dari Kampus Pengajar ke Kampus Inovasi
Efa mengatakan, strategi tersebut merupakan bagian dari transformasi UNAND dari teaching university menuju research university, kemudian berkembang menjadi universitas berbasis inovasi.
Menurutnya, kemajuan sebuah negara sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia serta kemampuan menguasai teknologi dan menghasilkan inovasi.
“Pada intinya sebuah negara itu maju kalau membenahi dua hal. Yang pertama SDM-nya, SDM yang kompeten, unggul dan memiliki talenta. Yang kedua inovasi, inovasi-inovasi dan penguasaan terhadap teknologi,” katanya.
Karena itu, UNAND terus memperkuat ekosistem penelitian melalui peningkatan pendanaan, pengembangan laboratorium dan peningkatan kapasitas peneliti.
Namun, penguatan riset tidak boleh berhenti pada publikasi. Perguruan tinggi harus mampu menjembatani hasil penelitian dengan kebutuhan masyarakat dan industri.
Efa mencontohkan komoditas nikel yang dimiliki Indonesia. Kekayaan sumber daya alam tidak otomatis menghasilkan nilai tambah terbesar jika penguasaan teknologi pengolahan masih terbatas.
“Nikel saja contohnya. Kita punya sumber daya, raw material-nya di kita. Ini nilai tambahnya tidak terbesar kita nikmati. Nah, di situlah pentingnya peran perguruan tinggi,” ujarnya.
Karena itu, UNAND berharap hasil riset dan paten yang dihasilkan sivitas akademika dapat dilirik industri untuk dikembangkan dan dikomersialkan.
“UNAND dengan umur 70 tahun ini telah membuktikan sebagai universitas yang menyumbangkan banyak hak kekayaan intelektual di Indonesia, termasuk paten yang dihasilkan,” katanya.
Riset Harus Lewati “Valley of Death”
Dorongan agar hasil riset masuk ke dunia industri juga disampaikan Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Arif Satria, dalam orasi ilmiahnya pada Dies Natalis ke-70 UNAND.
Arif menekankan pentingnya penguatan human capital, teknologi, inovasi dan entrepreneurship untuk menghadapi perubahan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
“Human capital merupakan salah satu kunci dalam menentukan masa depan, selain teknologi, inovasi, dan entrepreneurship,” jelasnya.
Menurut Arif, perguruan tinggi harus mampu menjembatani kesenjangan antara dunia riset dan industri atau yang dikenal sebagai Valley of Death.
Hasil penelitian, katanya, tidak cukup berhenti pada publikasi dan paten. Riset harus dikembangkan menjadi teknologi, produk, lisensi hingga komersialisasi.
Ia pun mendorong UNAND bergerak menuju Innovation University, dengan memperkuat flagship innovation, roadmap riset, science and technopark serta advanced laboratory.
Capaian Terus Menguat
Memasuki usia ke-70, UNAND mencatat sejumlah capaian penting. Saat ini UNAND memiliki 154 program studi, dengan 87 program studi berstatus unggul dan 29 program studi telah memperoleh akreditasi internasional.
Pada 2025, UNAND melaksanakan 1.574 proyek penelitian dan menghasilkan 1.344 publikasi terindeks Scopus. Sebanyak 51,7 persen publikasi pada 2026 berada pada jurnal Q1 dan Q2.
Di bidang hilirisasi, pada 2026 tercatat tujuh produk atau prototipe, dua lisensi atau kontrak komersialisasi serta 10 produk yang telah dikomersialisasikan.
UNAND juga telah menghasilkan ribuan kekayaan intelektual, terdiri dari 556 paten, 1.376 paten sederhana, 1.538 desain industri dan 11.797 hak cipta.
Dari sisi reputasi internasional, posisi UNAND pada QS Asia University Rankings 2026 berada di peringkat 396, meningkat dari kelompok peringkat 461–470 pada 2025.
Jejaring internasional juga semakin luas. Pada 2026 tercatat 3.887 dokumen kerja sama aktif dengan mitra dari 46 negara.
Sementara Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah mengapresiasi kontribusi UNAND selama tujuh dekade dan berharap kolaborasi pemerintah daerah dengan UNAND semakin diperkuat.
“Ke depan semakin meningkat dan semakin banyak kerja sama yang dapat kita bangun, baik dalam pengembangan sumber daya manusia, beasiswa, riset unggulan daerah, pendidikan vokasi, pengabdian kepada masyarakat, maupun menghadirkan inovasi-inovasi,” ujarnya.
Dengan tema “Tumbuh Berakar, Menjulang Berdampak”, perjalanan 70 tahun UNAND tidak hanya menjadi catatan sejarah. Momentum tersebut menjadi pijakan untuk memperkuat peran kampus dalam menghasilkan SDM unggul, riset berkualitas, inovasi dan teknologi yang mampu memberi dampak nyata bagi Sumatera Barat, Indonesia dan dunia.(bs)
