Gubernur Sumbar Mahyeldi dan rombongan saat meninjau titik lokasi longsor di jalur Sumbar-Riau di Pangkalan Koto Baru, Kabupaten Limapuluh Kota, Kamis (28/12

Padang, -Di penghujung tahun 2023 bencana hidrometeorologi banyak melanda sejumlah kabupaten/kota di Sumbar. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat untuk mewaspadai potensi hujan lebat dan angin kencang yang dapat memicu terjadinya bencana banjir, longsor dan banjir bandang.

Kepala BMKG Minangkabau Desindra Deddy Kurniawan menyampaikan, berdasarkan analisis dinamika atmosfer terjadi meningkatan pertumbuhan awan hujan secara intensif di Sumbar.

“Peningkatan potensi pertumbuhan awan hujan menyebabkan peningkatan peluang terjadinya cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, dan tanah longsor,” kata Desindra dalam rilis resminya, Kamis (28/12).

Kabupaten/kota di Sumatera Barat yang berada dalam kondisi Siaga yaitu Kabupaten Limapuluh Kota dan Agam. Sedangkan kondisi Waspada yakni Kabupaten Sijunjung, Pasaman Barat, Pasaman, Pesisir Selatan, Padang Pariaman, Kota Padang, Sawahlunto, dan Payakumbuh.

Desindra mengimbau masyarakat agar selalu mewaspadai terjadinya bencana hidrometeorologi, terutama pada saat puncak musim hujan di Sumbar yang diperkirakan hingga 31 Desember 2023. Masyarakat agar mengenali titik-titik rawan bencana pada daerah yang akan dituju atau dilalui.

“Masyarakat mesti melakukan pembaharuan informasi cuaca sebelum memulai dan melanjutkan perjalanan, dan mencari lokasi aman bila kondisi hujan terjadi dalam intensitas tinggi dan durasi lama, serta selalu mengikuti arahan petugas-petugas terkait kebencanaan,” imbaunya.

Sementara itu,Berdasarkan catatan Rakyat Sumbar, terjadi bencana banjir dan longsor yang berdampak parah di beberapa daerah di Sumbar akibat tingginya curah hujan.

Bencana alam banjir bandang terjadi di Kanagarian Durian Tinggi Kecamatan Lubuk Sikaping Kabupaten Pasaman, Sabtu (2/12).  Selain merendam pemukiman masyarakat, dan juga sempat menyebabkan akses masyarakat terganggu.

Banjir bandang Jorong Sungai Rangeh, Nagari Bayua, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam Kamis (7/12), material banjir bandang berupa tanah dan batu menimbun areal pertanian warga, dan merusak sejumlah fasilitas umum.

Banjir bandang melanda Nagari Surian, Kecamatan Pantai Cermin, Kabupaten Solok. Musibah itu menyebabkan sejumlah rumah warga rusak, beberapa jembatan hancur serta menimbun areal pertanian masyarakat. Curah hujan yang tinggi menyebabkan meluapnya Sungai Kayu Manang.

Kemudian, terbaru banjir dan longsor yang terjadi di Kabupaten Limapuluh Kota. Berdasarkan data BPBD Sumbar bencana banjir dan longsor yang terjadi di Kabupaten Limapuluh Kota berdampak cukup besar mulai dari infrastruktur hingga menyebabkan korban jiwa.

 Kalaksa BPBD Sumbar Rudy Rinaldy mengatakan dari data yang dihimpun Pusdalops bencana banjir di Limapuluh Kota yang terjadi beberapa hari terakhir tersebut, tersebar di tiga kecamatan yakni Harau, Pangkalan Koto Baru, Kapur IX, dan Bukit Barisan I

Di Kecamatan Harau itu terdapat 70 KK atau 280 jiwa serta 24 unit rumah terdampak. Lalu di Kecamatan Pangkalan Koto Baru 1.823 KK atau 6.059 jiwa serta 1.336 unit rumah terdampak. 

Selanjutnya di Kecamatan Kapur IX terdampak 126 KK atau 449 jiwa serta 126 unit rumah terdampak. Serta Kecamatan Bukit Barisan 1 KK atau 4 jiwa dan 1 unit rumah rusak berat. Selain itu juga ada 13 unit sekolah terendam banjir, 18 unit tempat ibadah terendam banjir, 8 unit kantor pemerintahan terendam banjir.

 "Untuk irigasi pertanian, DAS Batang Maek, dan sektor perikanan juga terdampak dengan Luas 750 meter persegi," jelasnya, Jumat (29/12).

 Kemudian bencana di Limapuluh Kota yang juga terjadi longsor, seperti di Jorong Hulu Aie Nagari Harau Kecamatan Harau, Nagari Koto Alam Kecamatan Pangkalan Koto Baru, dimana terdapat 50 titik longsor dan jalan tertimbun material longsor.

 "Longsor ini menyebabkan korban jiwa, ada satu pengendara yang terseret material longsor," katanya. 

Rudy menyampaikan kondisi terkini akses jalan Sumbar - Riau belum bisa dilalui secara maksimal. Karena pembersihan material masih dilakukan, serta adanya jalan yang terban. 

"Beberapa kali bisa dilalui, dengan sistem buka tutup. Setelah itu ditutup kembali, terutama saat hujan turun, khawatir longsor kembali terjadi," ungkapnya. 

Terkait aksea jalan ini, sesuai dengan intruksi pihak kepolisian, pengendara diarahkam melewati Kilirian Jao Sijunjung, karena jalan di sana juga terhubung Sumbar - Riau. 

"Dalam kondisi intensitas hujan yang tinggi, diingatkan kepada pengendara untuk berhati-hati melewati daerah rawan longsor dan banjir," imbaunya.

Gubernur Mahyeldi Tinjau Titik Longsor Jalur Sumbar - Riau 

Sebelumnya Gubernur Sumbar  Mahyeldi saat meninjau kondisi sejumlah titik jalan Sumbar-Riau yang rusak pascabencana longsor di Kabupaten Limapuluh Kota  berharap perbaikan jalan utama itu bisa rampung secepat mungkin.

"Kami sudah meninjau beberapa titik jalan yang rusak tertiban longsor. Bahkan ada bahu jalan yang amblas. Secara umum kondisi jalan Sumbar-Riau di Pangkalan saat ini memang mengkhawatirkan," ucap Gubernur Mahyeldi di Kelok 17 Pangkalan, Kamis (28/12).

Pemprov Sumbar menyadari, sambung Gubernur, bahwa masyarakat secara ekonomi sangat tergantung pada akses jalan Sumbar-Riau. Namun, kejadian bencana longsor yang sering terjadi beberapa waktu belakangan telah menyebabkan terputusnya akses jalan tersebut, sehingga turut mengganggu aktivitas perekonomian di kedua provinsi.

"Jalur ini sangat berarti penting bagi perekonomian Sumbar. Bahkan selain jalan, longsor juga mengakibatkan ada tiang listrik yang tumbang hingga pondasi Sutet yang ikut tergerus," ucap Gubernur lagi.

Kondisi kerusakan jalan yang terjadi pascalongsor, imbuh Gubernur, membutuhkan respons cepat perbaikan sekaligus pemetaan strategis untuk jangka panjang agar moda transportasi Sumbar-Riau bisa lebih optimal saat melintasi jalur tersebut. 

Gubernur pun berterima kasih karena Balai Jalan Nasional sudah mulai melakukan pengerjaan, sekaligus mengantisipasi alternatif pelebaran jalan sehingga kendaraan tetap bisa melintas.

Di sisi lain, Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sumbar, Thabrani mengatakan hingga saat ini pihaknya masih terus berupaya memaksimalkan perbaikan jalan di setiap titik-titik yang tertimpa longsor. "Untuk sementara waktu harus akses buka-tutup dulu," ujarnya. (bs)



Waspada Bencana Hidrometeorologi Melintasi Daerah Rawan Banjir dan Longsor di Sumbar Saat Hujan

Jumat, 29 Desember 2023 : 18.12
Gubernur Sumbar Mahyeldi dan rombongan saat meninjau titik lokasi longsor di jalur Sumbar-Riau di Pangkalan Koto Baru, Kabupaten Limapuluh Kota, Kamis (28/12

Padang, -Di penghujung tahun 2023 bencana hidrometeorologi banyak melanda sejumlah kabupaten/kota di Sumbar. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat untuk mewaspadai potensi hujan lebat dan angin kencang yang dapat memicu terjadinya bencana banjir, longsor dan banjir bandang.

Kepala BMKG Minangkabau Desindra Deddy Kurniawan menyampaikan, berdasarkan analisis dinamika atmosfer terjadi meningkatan pertumbuhan awan hujan secara intensif di Sumbar.

“Peningkatan potensi pertumbuhan awan hujan menyebabkan peningkatan peluang terjadinya cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, dan tanah longsor,” kata Desindra dalam rilis resminya, Kamis (28/12).

Kabupaten/kota di Sumatera Barat yang berada dalam kondisi Siaga yaitu Kabupaten Limapuluh Kota dan Agam. Sedangkan kondisi Waspada yakni Kabupaten Sijunjung, Pasaman Barat, Pasaman, Pesisir Selatan, Padang Pariaman, Kota Padang, Sawahlunto, dan Payakumbuh.

Desindra mengimbau masyarakat agar selalu mewaspadai terjadinya bencana hidrometeorologi, terutama pada saat puncak musim hujan di Sumbar yang diperkirakan hingga 31 Desember 2023. Masyarakat agar mengenali titik-titik rawan bencana pada daerah yang akan dituju atau dilalui.

“Masyarakat mesti melakukan pembaharuan informasi cuaca sebelum memulai dan melanjutkan perjalanan, dan mencari lokasi aman bila kondisi hujan terjadi dalam intensitas tinggi dan durasi lama, serta selalu mengikuti arahan petugas-petugas terkait kebencanaan,” imbaunya.

Sementara itu,Berdasarkan catatan Rakyat Sumbar, terjadi bencana banjir dan longsor yang berdampak parah di beberapa daerah di Sumbar akibat tingginya curah hujan.

Bencana alam banjir bandang terjadi di Kanagarian Durian Tinggi Kecamatan Lubuk Sikaping Kabupaten Pasaman, Sabtu (2/12).  Selain merendam pemukiman masyarakat, dan juga sempat menyebabkan akses masyarakat terganggu.

Banjir bandang Jorong Sungai Rangeh, Nagari Bayua, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam Kamis (7/12), material banjir bandang berupa tanah dan batu menimbun areal pertanian warga, dan merusak sejumlah fasilitas umum.

Banjir bandang melanda Nagari Surian, Kecamatan Pantai Cermin, Kabupaten Solok. Musibah itu menyebabkan sejumlah rumah warga rusak, beberapa jembatan hancur serta menimbun areal pertanian masyarakat. Curah hujan yang tinggi menyebabkan meluapnya Sungai Kayu Manang.

Kemudian, terbaru banjir dan longsor yang terjadi di Kabupaten Limapuluh Kota. Berdasarkan data BPBD Sumbar bencana banjir dan longsor yang terjadi di Kabupaten Limapuluh Kota berdampak cukup besar mulai dari infrastruktur hingga menyebabkan korban jiwa.

 Kalaksa BPBD Sumbar Rudy Rinaldy mengatakan dari data yang dihimpun Pusdalops bencana banjir di Limapuluh Kota yang terjadi beberapa hari terakhir tersebut, tersebar di tiga kecamatan yakni Harau, Pangkalan Koto Baru, Kapur IX, dan Bukit Barisan I

Di Kecamatan Harau itu terdapat 70 KK atau 280 jiwa serta 24 unit rumah terdampak. Lalu di Kecamatan Pangkalan Koto Baru 1.823 KK atau 6.059 jiwa serta 1.336 unit rumah terdampak. 

Selanjutnya di Kecamatan Kapur IX terdampak 126 KK atau 449 jiwa serta 126 unit rumah terdampak. Serta Kecamatan Bukit Barisan 1 KK atau 4 jiwa dan 1 unit rumah rusak berat. Selain itu juga ada 13 unit sekolah terendam banjir, 18 unit tempat ibadah terendam banjir, 8 unit kantor pemerintahan terendam banjir.

 "Untuk irigasi pertanian, DAS Batang Maek, dan sektor perikanan juga terdampak dengan Luas 750 meter persegi," jelasnya, Jumat (29/12).

 Kemudian bencana di Limapuluh Kota yang juga terjadi longsor, seperti di Jorong Hulu Aie Nagari Harau Kecamatan Harau, Nagari Koto Alam Kecamatan Pangkalan Koto Baru, dimana terdapat 50 titik longsor dan jalan tertimbun material longsor.

 "Longsor ini menyebabkan korban jiwa, ada satu pengendara yang terseret material longsor," katanya. 

Rudy menyampaikan kondisi terkini akses jalan Sumbar - Riau belum bisa dilalui secara maksimal. Karena pembersihan material masih dilakukan, serta adanya jalan yang terban. 

"Beberapa kali bisa dilalui, dengan sistem buka tutup. Setelah itu ditutup kembali, terutama saat hujan turun, khawatir longsor kembali terjadi," ungkapnya. 

Terkait aksea jalan ini, sesuai dengan intruksi pihak kepolisian, pengendara diarahkam melewati Kilirian Jao Sijunjung, karena jalan di sana juga terhubung Sumbar - Riau. 

"Dalam kondisi intensitas hujan yang tinggi, diingatkan kepada pengendara untuk berhati-hati melewati daerah rawan longsor dan banjir," imbaunya.

Gubernur Mahyeldi Tinjau Titik Longsor Jalur Sumbar - Riau 

Sebelumnya Gubernur Sumbar  Mahyeldi saat meninjau kondisi sejumlah titik jalan Sumbar-Riau yang rusak pascabencana longsor di Kabupaten Limapuluh Kota  berharap perbaikan jalan utama itu bisa rampung secepat mungkin.

"Kami sudah meninjau beberapa titik jalan yang rusak tertiban longsor. Bahkan ada bahu jalan yang amblas. Secara umum kondisi jalan Sumbar-Riau di Pangkalan saat ini memang mengkhawatirkan," ucap Gubernur Mahyeldi di Kelok 17 Pangkalan, Kamis (28/12).

Pemprov Sumbar menyadari, sambung Gubernur, bahwa masyarakat secara ekonomi sangat tergantung pada akses jalan Sumbar-Riau. Namun, kejadian bencana longsor yang sering terjadi beberapa waktu belakangan telah menyebabkan terputusnya akses jalan tersebut, sehingga turut mengganggu aktivitas perekonomian di kedua provinsi.

"Jalur ini sangat berarti penting bagi perekonomian Sumbar. Bahkan selain jalan, longsor juga mengakibatkan ada tiang listrik yang tumbang hingga pondasi Sutet yang ikut tergerus," ucap Gubernur lagi.

Kondisi kerusakan jalan yang terjadi pascalongsor, imbuh Gubernur, membutuhkan respons cepat perbaikan sekaligus pemetaan strategis untuk jangka panjang agar moda transportasi Sumbar-Riau bisa lebih optimal saat melintasi jalur tersebut. 

Gubernur pun berterima kasih karena Balai Jalan Nasional sudah mulai melakukan pengerjaan, sekaligus mengantisipasi alternatif pelebaran jalan sehingga kendaraan tetap bisa melintas.

Di sisi lain, Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sumbar, Thabrani mengatakan hingga saat ini pihaknya masih terus berupaya memaksimalkan perbaikan jalan di setiap titik-titik yang tertimpa longsor. "Untuk sementara waktu harus akses buka-tutup dulu," ujarnya. (bs)



Silahkan Dibagikan