UNAND dan KAI Bahas Reaktivasi Jalur Kayu Tanam–Padang Panjang - Sumbar19.com | Mewartakan Dari Penjuru 19 Daerah
arrow_upward

UNAND dan KAI Bahas Reaktivasi Jalur Kayu Tanam–Padang Panjang

Rabu, 18 Februari 2026, 21.25 WIB
Reaktivasi jalur Kayu Tanam–Padang Panjang menjadi topik strategis dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digelar di Ruang Rapat Senat Rektorat Kampus Limau Manis, Rabu (18/2).

PADANG — Deru kereta yang pernah menjadi nadi transportasi Sumatera Barat kini berpeluang kembali terdengar. Reaktivasi jalur Kayu Tanam–Padang Panjang menjadi topik strategis dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digelar di Ruang Rapat Senat Rektorat Kampus Limau Manis, Rabu (18/2).

Diskusi ini menghadirkan Managing Director of Commercial and Business Development PT Kereta Api Indonesia (Persero), Rafli Yandra, serta Guru Besar Teknik Sipil Universitas Andalas, Prof. Ir. Eng. Febrin Anas Ismail. Forum dipandu Ketua Pusat Studi Transportasi UNAND, Ir. Yosritzal, Ph.D., dan dihadiri pemangku kepentingan dari Dinas Perhubungan, Dinas Pariwisata, Dinas Kebudayaan, Bappeda, DPRD Provinsi Sumatera Barat, hingga kalangan akademisi.

Rafli Yandra mengungkapkan, Sumbar sejatinya memiliki jaringan rel yang kompleks dan historis—warisan era kolonial Belanda dan Jepang. Namun, perubahan zaman membuat sebagian jalur terhenti.

“Reaktivasi bukan hanya soal menghidupkan rel lama, tetapi memperbarui sistem transportasi agar relevan dengan kebutuhan ekonomi masa kini,” tegasnya.

Rektor UNAND menilai, jalur Kayu Tanam–Padang Panjang berpotensi menjadi motor baru pertumbuhan ekonomi Sumbar, terutama dalam mendukung sektor pariwisata dan logistik. Meski secara bisnis belum tentu menguntungkan dalam jangka pendek, proyek ini dinilai memiliki nilai strategis jangka panjang.

“Di banyak negara maju, kereta api menjadi tulang punggung mobilitas dan pembangunan wilayah. Kita perlu visi yang sama untuk mewujudkannya di Sumbar,” ujarnya.

Ia menekankan perlunya intervensi pemerintah, termasuk kemungkinan skema subsidi, agar proyek ini tetap berjalan demi kepentingan publik. Moda transportasi berbasis rel dinilai ramah lingkungan, efisien, serta mampu mengangkut penumpang dan barang dalam skala besar.

Sementara itu, Prof. Febrin Anas Ismail menyoroti pentingnya strategi komprehensif berbasis riset. Perguruan tinggi, menurutnya, siap menyusun peta jalan (roadmap), timeline, hingga feasibility study guna memastikan proyek berjalan terarah dan berkelanjutan.

“Semua stakeholder harus berbagi peran. Dengan perencanaan matang, jalur ini bisa menjadi pengungkit pariwisata, memperlancar distribusi logistik, sekaligus memperkuat konektivitas antarwilayah,” jelasnya.

Melalui FGD ini, UNAND menegaskan perannya sebagai mitra strategis pemerintah dan industri. Reaktivasi jalur Kayu Tanam–Padang Panjang bukan sekadar nostalgia sejarah, melainkan langkah nyata membangun masa depan transportasi Sumatera Barat yang lebih modern, hijau, dan berdaya saing.(bs/rls)