![]() |
| Universitas Andalas (UNAND) mewisuda 1.333 orang lulusan pada wisuda periode I 2026, Sabtu (14/3/2026) di Auditorium Kampus Limau Manis. |
PADANG — Universitas Andalas (UNAND) mewisuda 1.333 orang lulusan Program Diploma, Sarjana, Profesi, Spesialis, Magister dan Doktor pada wisuda periode I 2026, Sabtu (14/3/2026) di Auditorium Kampus Limau Manis.
Rektor Universitas Andalas, Efa Yonnedi, Ph.D mengingatkan para wisudawan agar bersiap menghadapi tantangan besar dalam dua hingga tiga tahun ke depan, terutama derasnya arus misinformasi dan disinformasi akibat akselerasi teknologi digital.
Menurutnya, perkembangan teknologi yang sangat cepat membuat masyarakat kerap kesulitan membedakan antara konten yang benar dan yang palsu. Tsunami informasi berpotensi mengaburkan fakta dan kebenaran.
“Ke depan, kita membutuhkan lulusan yang berpikir kritis. Setiap informasi harus diuji: apakah ini logis, apakah ini benar. Itu membutuhkan kemampuan berpikir kritis yang kuat,” ujarnya.
Selain tantangan digital, perubahan iklim juga menjadi ancaman nyata. Ia mencontohkan bencana alam pada akhir 2025 yang mampu melumpuhkan aktivitas bisnis dalam waktu singkat, merusak infrastruktur strategis, hingga menyebabkan hilangnya lapangan pekerjaan.
“Kita melihat sendiri bagaimana bencana bisa menutup bisnis dalam satu malam. Karena itu, kesadaran terhadap lingkungan dan keseimbangan ekologis menjadi sangat penting,” katanya.
Ia berharap alumni UNAND memiliki kepedulian terhadap keberlanjutan lingkungan agar generasi mendatang tetap dapat menikmati alam yang asri dan seimbang.
Di sisi lain, rektor juga menyinggung peran kecerdasan buatan (AI) dan robot dalam dunia kerja masa depan. Menurutnya, AI bukan ancaman, melainkan mitra kerja yang dapat meningkatkan produktivitas.
“AI adalah rekan kerja alumni ke depan. Namun AI tidak bisa menggantikan manusia sepenuhnya, karena manusia memiliki kecerdasan emosi dan kompas moral,” jelasnya.
Ia menggambarkan bahwa robot mungkin dapat membantu tugas teknis, tetapi tidak mampu menghadirkan empati dan kehangatan manusia.
“Robot tidak bisa memeluk anak yang sedang menangis. Tidak bisa memberikan dekapan ketika seseorang membutuhkan kehangatan,” tambahnya.
Karena itu, ia berpesan agar alumni terus beradaptasi dengan perubahan, tidak berhenti belajar, serta memperbarui keterampilan melalui berbagai skema microcredential. Ilmu yang diperoleh selama kuliah, menurutnya, belum tentu sepenuhnya relevan di masa depan.
“Teruslah belajar dan meng-update kemampuan. Adaptif terhadap perubahan adalah kunci menghadapi masa depan,” pesannya.
Prosesi wisuda berlangsung khidmat dan menjadi momentum penting bagi para lulusan untuk melangkah ke fase kehidupan berikutnya dengan bekal ilmu, integritas, dan daya saing global.
Dalam pelaksanaan Wisuda Periode I Tahun 2026, Sabtu (14/3/2026), prosesi digelar secara terpusat di tingkat universitas, dengan pemindahan tali toga dilakukan langsung oleh Rektor serta penyerahan ijazah secara langsung oleh masing-masing dekan kepada para wisudawan, sehingga momen kelulusan berlangsung lebih khidmat, personal, dan berkesan bagi lulusan maupun orang tua yang hadir.
“Biasanya pada wisuda sebelumnya, pemindahan toga oleh rektor hanya bersifat simbolis. Kali ini, toga dipindahkan langsung oleh rektor dan ijazah diserahkan langsung oleh dekan. Ini untuk memberikan pengalaman yang lebih berkesan bagi mahasiswa dan orang tua,” ujarnya.
Selain lebih berkesan, sistem terpusat ini juga dinilai lebih efisien. Pelaksanaan wisuda di satu lokasi mengurangi kebutuhan penggunaan banyak gedung serta memudahkan koordinasi antar fakultas. Dengan manajemen waktu yang tertata, prosesi tetap berjalan lancar meski jumlah wisudawan mencapai ribuan. (bs)
