LIMAPULUH KOTA – Isak tangis warga pecah saat mahasiswa berpamitan satu per satu dengan masyarakat Jorong Aie Angek, Kenagarian Koto Tinggi, Kecamatan Gunuang Omeh, Kabupaten Limapuluh Kota, Rabu (25/2/2026).
Pelukan hangat dan mata berkaca-kaca mewarnai momen perpisahan antara warga penghuni hunian sementara (HUNTARA) dengan mahasiswa yang selama lebih dari sebulan mendampingi mereka melalui Program Pengabdian Mahasiswa Berdampak dari Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh (PPNP).
“Terima kasih ya nak, nanti jangan lupa main lagi ke sini ya,” ucap Ibu Ani, salah satu warga HUNTARA dengan suara lirih sambil menyalami mahasiswa.
Momen haru tersebut menjadi bukti bahwa kehadiran para mahasiswa benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat yang masih berupaya bangkit setelah bencana tanah bergerak yang melanda wilayah itu pada akhir November 2025.
Bencana hidrometeorologi tersebut menyebabkan sekitar 220 rumah warga rusak berat dan tidak lagi layak huni. Sebanyak 249 kepala keluarga atau 702 jiwa terpaksa mengungsi dan tinggal di tenda darurat, masjid, mushalla, sekolah, serta fasilitas umum lainnya.
Pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama TNI, Polri, dan masyarakat kemudian bergerak cepat membangun hunian sementara (HUNTARA) di lokasi yang lebih aman di Jorong Aie Angek.
Pada fase pemulihan pascabencana inilah mahasiswa PPNP hadir melalui Program Mahasiswa Berdampak yang merupakan inisiasi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
![]() |
| Mahasiswa Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh selama sebulan lebih mendampingi masyarakat di Jorong Aie Angek, Kenagarian Koto Tinggi, Kecamatan Gunuang Omeh, Kabupaten Lima Puluh Kota. |
Sebanyak 50 mahasiswa dari berbagai organisasi mahasiswa seperti BEM, DLM, dan UKM turun langsung ke lokasi untuk membantu pemulihan kehidupan masyarakat di kawasan HUNTARA.
Beragam kegiatan dilakukan, mulai dari pemberdayaan ekonomi masyarakat, pembinaan sosial dan psikososial, hingga penguatan kapasitas masyarakat agar kembali produktif di lingkungan baru.
Mahasiswa juga membangun demplot tanaman sayuran, menanam hortikultura cepat panen, membuat kolam ikan dan kandang ayam sebagai bagian dari konsep pertanian terpadu untuk memperkuat ketahanan pangan warga.
Selain itu, mereka juga membimbing masyarakat dalam pengelolaan sampah dengan membuat instalasi pengolahan limbah (IPAL) sederhana untuk mengurangi pencemaran lingkungan.
Pendampingan juga diberikan kepada anak-anak korban bencana melalui berbagai kegiatan untuk membantu pemulihan psikologis dan emosional mereka, sekaligus mengembalikan rasa aman setelah trauma bencana.
Program tersebut turut memperkuat kelembagaan pemuda serta kelompok PKK Nagari Koto Tinggi agar tetap aktif dalam membangun kehidupan sosial masyarakat.
Selama menjalankan program, para mahasiswa tinggal di kawasan HUNTARA dan berbaur langsung dengan warga. Kegiatan itu didampingi oleh dosen pembimbing lapangan, yakni Dr. Hendra Alfi, Veronika Sriwulandari, Dr. Aflizar, serta dikoordinasikan oleh Synthia Ona Guserike Afner, S.P., M.P sebagai penanggung jawab program.
Perangkat Nagari Koto Tinggi, Surya Ari Dharma, mengaku sangat merasakan manfaat dari program tersebut.
“Program ini sangat menyentuh dan bermanfaat sekali bagi kami. Kami berharap kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut di masa mendatang. Ilmu yang diberikan, terutama di bidang pertanian, sangat kami butuhkan,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada PPNP dan Kemdiktisaintek yang telah menghadirkan program tersebut di tengah masyarakat yang sedang bangkit dari bencana.
“Terima kasih kepada PPNP dan Kemdiktisaintek yang sudah melaksanakan Program Mahasiswa Berdampak di Koto Tinggi,” tutupnya.
Kehadiran mahasiswa di Jorong Aie Angek menjadi bukti bahwa kampus tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga hadir memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
“Mahasiswa hadir bukan hanya untuk belajar, tetapi untuk berdampak, membawa perubahan dan harapan masyarakat usai Jorong Aie Angek, Kenagarian Koto Tinggi, Kecamatan Gunuang Omeh, Kabupaten Limapuluh Kota".(bs/rls)

