Lapangan Kerja Dalam Negeri Terbatas, Strategi Baru Arahkan Lulusan ke Kancah Internasional - Sumbar19.com | Mewartakan Dari Penjuru 19 Daerah
arrow_upward

Lapangan Kerja Dalam Negeri Terbatas, Strategi Baru Arahkan Lulusan ke Kancah Internasional

Rabu, 22 April 2026, 18.05 WIB
Staf Khusus Kemendiktisaintek, Oki Earlivan Sampurno berdiskusi dengan Wali Kota Padang Fadly Amran, mantan Direktur PNP Surfa Yondri usai kegiatan 2026 Intense Programs Taiwan–Indonesia International Industrial Talent Education.

PNP Kolaborasi dengan 12 Kampus Taiwan, Program INTENSE Gerbang Mahasiswa Kota Padang ke Luar Negeri


PADANG — Pemerintah mendorong strategi baru dalam menjawab tantangan ketenagakerjaan nasional, seiring meningkatnya jumlah lulusan perguruan tinggi yang belum sepenuhnya terserap di dalam negeri. Salah satu solusi yang kini diperkuat adalah pengiriman tenaga kerja terampil ke luar negeri sebagai bagian dari pengembangan global talent.

Staf Khusus Bidang Industri dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Oki Earlivan Sampurno, mengungkapkan bahwa pertumbuhan tenaga kerja berpendidikan tinggi di Indonesia belum diimbangi dengan kapasitas penyerapan lapangan kerja.

“Dalam beberapa tahun terakhir, terjadi kesenjangan antara jumlah lulusan dengan kebutuhan industri. Pada 2025 saja, diperkirakan lebih dari satu juta tenaga kerja terdidik belum terserap,” ujarnya dalam pemaparan pada kegiatan 2026 Intense Programs Taiwan–Indonesia International Industrial Talent Education yang digelar oleh Politeknik Negeri Padang (PNP), di Gedung PKM PNP, Selasa (21/4).

Data tersebut menunjukkan bahwa tren ke depan berpotensi semakin melebar. Jika tidak diantisipasi, defisit penyerapan tenaga kerja terampil diperkirakan bisa mencapai sekitar 30 persen pada 2029.

Di sisi lain, peluang kerja di luar negeri justru terbuka lebar. Oki menyebutkan bahwa banyak negara, khususnya di kawasan Eropa, membutuhkan tenaga kerja di berbagai sektor seperti perhotelan, restoran, hingga layanan jasa.

Permintaan tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan pentingnya penguatan kualitas sumber daya manusia serta pemanfaatan peluang global. Dalam salah satu pidatonya, Presiden menyebutkan adanya kebutuhan besar tenaga kerja Indonesia di luar negeri, bahkan mencapai jutaan orang setiap tahun.

“Ini menjadi peluang besar bagi lulusan perguruan tinggi kita untuk tidak hanya bekerja, tetapi juga mengembangkan kompetensi di level internasional,” tambah Oki.

Lebih jauh dijelaskan, Indonesia memiliki potensi besar sebagai pemasok global talent. Setidaknya terdapat sekitar 1,1 juta tenaga kerja yang bisa diarahkan untuk mengisi kebutuhan pasar global. Sektor-sektor seperti kesehatan, manufaktur, pendidikan, hingga industri makanan dan minuman menjadi bidang yang paling banyak dibutuhkan.

Namun demikian, pemanfaatan peluang tersebut dinilai masih belum optimal. Dibandingkan negara lain di ASEAN seperti Filipina, Indonesia masih tertinggal dalam pengiriman tenaga kerja ke luar negeri.

Bahkan, berdasarkan data hingga November 2025, sekitar 81 persen lowongan kerja luar negeri yang tersedia belum dilamar oleh tenaga kerja Indonesia.

“Kita memiliki potensi besar, tetapi perlu keberanian dan kesiapan sistem untuk mendorong lulusan agar bisa bersaing di pasar global,” tegasnya.

Pemerintah pun kini terus mendorong sinergi antara perguruan tinggi, industri, dan mitra internasional agar lulusan Indonesia tidak hanya terserap di dalam negeri, tetapi juga mampu menjadi pemain di pasar tenaga kerja global.

Menurutnya, kolaborasi antara perguruan tinggi dengan mitra internasional seperti universitas di Taiwan akan memperkuat kesiapan lulusan, baik dari sisi kompetensi maupun pengalaman global.

"Program INTENSE ini diharapkan melahirkan berbagai inisiatif nyata, seperti jalur studi ke Taiwan, pertukaran mahasiswa, program dual degree, hingga riset kolaboratif berbasis industri," jelasnya.

Oki Earlivan Sampurno,mengapresiasi kuatnya komitmen Politeknik Negeri Padang dan Pemerintah Kota Padang dalam membangun sumber daya manusia (SDM) berdaya saing global. Ia bahkan mengaku terkesan dengan atmosfer internasional yang ditunjukkan dalam kegiatan tersebut.

Direktur PNP Revalin Herdianto menyampaikan, Program kerja sama pendidikan dengan Taiwan menjadi salah satu langkah strategis yang telah dirintis sejak 2018. Melalui berbagai skema, mahasiswa diberangkatkan untuk menempuh pendidikan sekaligus mendapatkan pengalaman kerja di industri.

“Kerja sama dengan Taiwan sebenarnya sudah dimulai sejak 2018. Ada beberapa skema yang dijalankan, seperti satu tahun kuliah di Taiwan dan satu tahun magang di industri, atau dua tahun kuliah dilanjutkan satu tahun magang,” ungkapnya.

Program tersebut sempat terhenti pada 2020 akibat pandemi Covid-19, sebelum kembali diinisiasi pada 2023. Hingga kini, program tersebut telah meluluskan sekitar 15 hingga 20 alumni, khususnya dari Politeknik Negeri Padang.

Para alumni tersebut menunjukkan capaian beragam. Sebagian telah bekerja di perusahaan di Taiwan, ada yang kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan masa magang, serta ada pula yang melanjutkan studi ke jenjang magister di Taiwan.

"Ke depan, program ini akan diperluas dengan cakupan yang lebih besar dan kerja sama yang lebih luas. Jika sebelumnya hanya melibatkan beberapa perguruan tinggi di Taiwan, kini jumlahnya telah mencapai sekitar 12 institusi dan berpotensi terus bertambah," jelasnya.

Konsep pengembangan program juga semakin komprehensif. Mahasiswa tidak hanya menempuh pendidikan di perguruan tinggi di Taiwan, tetapi juga mendapatkan pengalaman langsung di dunia industri melalui program magang terstruktur.

“Mahasiswa kita bisa memilih berbagai skema, apakah satu tahun kuliah lalu satu tahun magang, atau dua tahun kuliah dan satu tahun magang di industri. Setelah itu, mereka berpeluang bekerja di perusahaan Taiwan, baik yang berada di Taiwan maupun yang beroperasi di Indonesia,” jelasnya.

Wali Kota Padang, Fadly Amran, menyampaikan bahwa pemerintah daerah siap mengambil peran aktif dalam mendorong pengiriman mahasiswa ke luar negeri sekaligus membangun kolaborasi akademik lintas negara.

“Kami juga mendorong inisiasi program double degree antara perguruan tinggi di Taiwan dengan universitas di Kota Padang, khususnya Politeknik Negeri Padang. Ini penting agar mahasiswa kita bisa mendapatkan pengalaman kuliah di dalam dan luar negeri,” ujarnya.

Ia menyampaikan, program ini merupakan bagian dari upaya besar Pemko Padang untuk memperluas akses beasiswa ke berbagai negara tujuan, seperti China, Amerika Serikat, Malaysia, Taiwan, hingga kawasan Timur Tengah dan Eropa.

"Saat ini, kerja sama pendidikan luar negeri yang telah berjalan mencakup tiga negara utama, yakni China, Amerika Serikat, dan Malaysia. Dengan masuknya Taiwan, jumlah negara mitra pun bertambah, dan penjajakan kerja sama juga tengah dilakukan dengan negara-negara di Timur Tengah," ungkapnya.

Fadly menargetkan, dalam lima tahun ke depan, ratusan pelajar dan mahasiswa asal Kota Padang dapat diberangkatkan untuk menempuh pendidikan di luar negeri melalui berbagai skema beasiswa.

“Target kita dalam lima tahun ke depan, ratusan anak-anak kita bisa kita kirim ke luar negeri. Ini harus kita percepat,” tegasnya.

Untuk mendukung program tersebut, Pemko Padang telah mengalokasikan anggaran pendidikan yang signifikan, dengan total mencapai sekitar Rp1 Triliun miliar melalui Dinas Pendidikan. Anggaran tersebut difokuskan pada peningkatan kualitas SDM, mulai dari penguatan kapasitas guru, pengembangan institusi pendidikan, hingga penyediaan beasiswa.

“Pendidikan adalah prioritas utama kita. Guru, sekolah, institusi pendidikan, termasuk beasiswa, semuanya menjadi fokus untuk menciptakan SDM Kota Padang yang unggul,” tambahnya.

Ia juga telah menginstruksikan Dinas Pendidikan untuk segera mengkonkretkan berbagai inisiatif kerja sama internasional tersebut, agar program beasiswa dan double degree dapat segera direalisasikan.

“Kami berharap melalui PNP, dapat mengirimkan 10 hingga 30 pelajar setiap tahun ke Taiwan. Pemerintah Kota Padang siap mendukung penuh,” jelasnya didampingi Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Yopi Krislova. (bs)