![]() |
| Rapat Senat Terbuka Wisuda ke-72 sekaligus peluncuran logo Dies Natalis ke-39 PNP di Gedung PKM PNP, Senin (28/9). |
PADANG, — Tiga puluh sembilan tahun perjalanan Politeknik Negeri Padang (PNP) menjadi bagian dari perjalanan panjang pendidikan vokasi di Indonesia. Berawal dari Politeknik Engineering Universitas Andalas Padang, PNP terus bertransformasi hingga menjadi perguruan tinggi negeri mandiri yang kini memiliki 37 program studi.
Perjalanan tersebut disampaikan Direktur PNP Revalin Herdianto dalam Rapat Senat Terbuka Wisuda ke-72 sekaligus peluncuran logo Dies Natalis ke-39 PNP di Gedung PKM PNP, Senin (28/9).
PNP berdiri pada 1987 sebagai salah satu dari 17 politeknik pertama di Indonesia dengan nama Politeknik Engineering Universitas Andalas Padang. Pada awal berdiri, pendidikan yang diselenggarakan berfokus pada bidang rekayasa dan keteknikan, yakni Teknik Mesin, Teknik Sipil, Teknik Listrik serta Elektronika Komunikasi.
Seiring perkembangan kebutuhan dunia kerja, pada 1997 Politeknik Engineering Universitas Andalas berubah nama menjadi Politeknik Universitas Andalas. Perubahan tersebut juga diikuti dengan pengembangan bidang pendidikan melalui pembukaan program studi tata niaga, di antaranya Akuntansi dan Administrasi Bisnis.
Dalam perjalanan menuju kemandirian, nama Politeknik Negeri Padang mulai digunakan. Hingga akhirnya pada 2013, PNP resmi menjadi perguruan tinggi negeri yang mandiri dengan nama Politeknik Negeri Padang.
Sejak saat itu, PNP terus berkembang mengikuti kebutuhan dunia kerja dan perkembangan teknologi. Hingga kini, PNP telah memiliki 37 program studi, yang terdiri atas program Diploma 3, Diploma 4 atau Sarjana Terapan, serta dua program Magister Terapan.
Revalin mengatakan, perjalanan panjang tersebut bukan sekadar catatan sejarah, tetapi menunjukkan kemampuan PNP untuk terus beradaptasi menghadapi perubahan zaman.
“PNP berkomitmen untuk menyelenggarakan pendidikan vokasi yang berdampak. Pendidikan yang kita selenggarakan harus mampu memberikan manfaat nyata bagi mahasiswa, dunia kerja, industri, maupun masyarakat,” ujar Revalin.
Menurutnya, perkembangan teknologi yang berlangsung cepat menuntut perguruan tinggi vokasi untuk terus melakukan penyesuaian. Pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan lulusan dengan pengetahuan, tetapi juga harus membekali mahasiswa dengan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan industri.
“Teknologi terus berkembang. Karena itu, pendidikan juga harus mampu mengikuti perkembangan tersebut. Program-program pendidikan yang kita jalankan harus memberikan bekal yang sesuai dengan kebutuhan mahasiswa dan dunia kerja,” katanya.
Revalin menegaskan, PNP akan terus memperkuat pendidikan berbasis teknologi, kompetensi dan inovasi. Kerja sama dengan dunia industri juga menjadi bagian penting dalam memastikan pendidikan vokasi tetap relevan dengan kebutuhan lapangan kerja.
Memasuki usia ke-39 tahun pada 5 Oktober 2026, momentum Dies Natalis menjadi refleksi perjalanan sekaligus penguatan arah PNP ke depan.
“Usia 39 tahun harus menjadi momentum untuk terus bergerak maju, berinovasi, dan memberikan dampak yang lebih luas. Kita ingin lulusan PNP tidak hanya memiliki kompetensi, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata di tengah masyarakat dan dunia kerja,” tegasnya.
Peluncuran logo Dies Natalis ke-39 pun menjadi penanda perjalanan baru PNP untuk terus tumbuh sebagai perguruan tinggi vokasi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, kebutuhan industri dan tantangan masa depan.(bs)
