PNP Percepat Transformasi Vokasi Berbasis AI, Bidik Lulusan Berdaya Saing Global - Sumbar19.com | Mewartakan Dari Penjuru 19 Daerah
arrow_upward

PNP Percepat Transformasi Vokasi Berbasis AI, Bidik Lulusan Berdaya Saing Global

Senin, 05 Oktober 2026, 16.38 WIB
Pada pembukaan Dies Natalis PNP Ke 39 tersebut, PNP juga memberikan apresiasi dan penghargaan kepada Dosen dan Tenaga Kependidikan (Tendik) Berprestasi PNP 2026

PADANG — Politeknik Negeri Padang (PNP) memasuki usia ke-39 dengan tekad mempercepat transformasi pendidikan vokasi. Kampus tersebut tidak ingin sekadar mempertahankan capaian yang telah diraih, tetapi menyiapkan talenta adaptif, menguasai teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), serta mampu bersaing di pasar kerja global.

Komitmen itu ditegaskan dalam peringatan Dies Natalis ke-39 PNP di Gedung Pekan Kreatif Mahasiswa (PKM) PNP, Senin (5/10/2026). Mengusung tema “39 Tahun PNP: Dari Politeknik untuk Sumatera Barat, Indonesia, dan Dunia”, momentum tersebut menjadi ruang evaluasi sekaligus penegasan arah baru pendidikan vokasi menghadapi perubahan dunia kerja dan perkembangan teknologi.

Direktur PNP Ir. Revalin Herdianto, S.T., M.Sc., Ph.D. mengatakan, akselerasi teknologi, otomatisasi, dan globalisasi menuntut perguruan tinggi bergerak lebih cepat. Pendidikan tinggi, menurutnya, tidak boleh lagi hanya berorientasi pada kelulusan dan pemberian ijazah.

“Apakah lulusan kita tidak hanya sekadar mencari kerja, tetapi juga siap melakukan pekerjaan? Apakah mereka mampu mengantisipasi dan berkolaborasi dengan teknologi yang akan digunakan? Pertanyaan ini yang harus dijawab. Mahasiswa butuh kompetensi teruji, portofolio, sertifikasi presisi, dan kemampuan berkolaborasi dengan AI,” ujar Revalin.

Serapan Lulusan Jadi Pekerjaan Rumah

Di balik berbagai capaian yang telah diraih sejak berdiri pada 1987, Revalin mengakui masih terdapat pekerjaan rumah yang harus segera dituntaskan, terutama terkait serapan lulusan.

Hingga September 2026, indikator lulusan PNP yang bekerja, berwirausaha, atau melanjutkan studi baru mencapai 63 persen, sementara target ideal yang ditetapkan berada di angka 80 persen.

Berdasarkan data lulusan 2025, sebanyak 677 alumni telah bekerja, 27 orang berwirausaha, 34 orang melanjutkan pendidikan, sedangkan 271 lainnya masih dalam proses mencari pekerjaan.

“Orang tua mengirimkan anak-anaknya ke PNP bukan hanya untuk mendapatkan selembar ijazah, melainkan harapan akan masa depan dan pekerjaan yang layak. Paradigmanya harus bergeser: lulusan tidak sekadar mencari kerja, tetapi siap bekerja dan memberi dampak nyata,” tegasnya.

Untuk meningkatkan serapan lulusan, PNP memperkuat pembelajaran berbasis proyek (project-based learning), magang industri strategis, sertifikasi kompetensi, micro-credential, serta memperluas sinergi Quadruple Helix yang melibatkan perguruan tinggi, pemerintah, dunia industri, dan masyarakat.

AI Masuk ke Seluruh Disiplin

Transformasi juga diarahkan pada pengembangan pendidikan vokasi berbasis AI. Revalin menegaskan bahwa AI, robotika, dan otomatisasi bukan lagi sekadar teknologi masa depan, tetapi telah menjadi bagian dari realitas dunia kerja.

PNP menyiapkan pembangunan Centre of Excellence in AI melalui skema SBSN. Penerapan AI nantinya diarahkan lintas disiplin, mulai dari konstruksi, manufaktur, energi hingga bisnis.

Langkah tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam menggunakan teknologi, tetapi juga membentuk lulusan yang mampu berkolaborasi dengan AI untuk menyelesaikan persoalan nyata di dunia kerja.

“ Kita tidak sedang mempersiapkan mahasiswa untuk pekerjaan hari ini. Kita sedang mempersiapkan mereka untuk dunia yang belum sepenuhnya kita kenal,” pungkas Revalin.

Perluas Jejaring Internasional

Selain transformasi teknologi, PNP juga memperluas pengalaman internasional mahasiswa. Pada periode 2024–2026, sebanyak 129 mahasiswa PNP tercatat mengikuti program outbound ke luar negeri.

Dari jumlah tersebut, 86 mahasiswa melanjutkan studi, sementara 43 lainnya menyelesaikan skema kerja sama internasional.

Revalin mendorong mahasiswa untuk tidak membatasi diri pada pasar kerja lokal maupun nasional. Pengalaman internasional dan penguasaan bahasa asing dinilai menjadi modal penting bagi lulusan menghadapi persaingan global.

“Pengalaman belajar di luar negeri dan penguasaan bahasa asing diharapkan membuat ijazah PNP bukan sekadar tiket mencari kerja di Indonesia, melainkan ‘paspor kompetensi’ menuju pasar kerja global,” katanya.

Menurut Revalin, seluruh pembenahan tersebut menjadi fondasi PNP dalam menyiapkan sumber daya manusia yang mampu berkontribusi terhadap pembangunan bangsa menuju Indonesia Emas 2045.

Kemdiktisaintek Dorong Mahasiswa Jadi Pembelajar Sepanjang Hayat

Dukungan terhadap transformasi PNP juga disampaikan Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Beny Bandanadjaja, yang hadir secara virtual melalui Zoom.

Beny menilai perubahan teknologi, otomatisasi, globalisasi, dan transisi energi akan membawa perubahan besar terhadap kebutuhan serta pola kerja di masa mendatang.

Karena itu, mahasiswa tidak cukup hanya mengandalkan pengetahuan yang diperoleh di ruang kuliah. Mereka harus memiliki kemampuan beradaptasi, membangun kolaborasi, memanfaatkan teknologi, serta memiliki kemauan untuk terus belajar.

“Dunia kerja nanti akan berubah dalam beberapa waktu ke depan. Dalam situasi seperti ini, apakah kita mampu beradaptasi dan menggunakan apa pun yang ada untuk menghadapi perubahan zaman?” ujarnya.

Menurut Beny, perguruan tinggi perlu memastikan kompetensi lulusan tetap relevan dengan perkembangan industri. Hubungan antara kampus dan dunia usaha maupun dunia industri harus diperkuat agar pembelajaran tidak terputus dari kebutuhan nyata di lapangan.

Kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, pemerintah, dan masyarakat juga dinilai penting untuk melahirkan sumber daya manusia yang tidak hanya mampu memasuki dunia kerja, tetapi juga berkembang dan memberikan dampak sosial maupun ekonomi.

Ia mendorong mahasiswa membangun kebiasaan belajar sepanjang hayat. Disiplin, kemauan memperbarui pengetahuan, kemampuan beradaptasi, serta kesiapan menghadapi perkembangan teknologi menjadi modal penting bagi lulusan untuk bertahan dan berkembang di tengah perubahan.

Transformasi PNP pada usia ke-39 pada akhirnya bukan sekadar perubahan kurikulum atau pemanfaatan teknologi. Lebih jauh, perubahan tersebut diarahkan untuk menggeser paradigma pendidikan vokasi: dari sekadar menghasilkan lulusan menjadi menghasilkan talenta yang siap bekerja, mampu beradaptasi, menguasai teknologi, dan memiliki daya saing global.

Pada pembukaan Dies Natalis PNP Ke 39 tersebut, PNP juga memberikan apresiasi dan penghargaan kepada Dosen dan Tenaga Kependidikan (Tendik) Berprestasi PNP 2026 dan juga penghargaan kepada dosen dan tendik yang telah memasuki purnabakti.

Apresiasi kepada para insan kampus tersebut diberikan PNP kepada mereka yang telah menunjukkan kinerja luar biasa, dedikasi tanpa batas, serta kontribusi nyata bagi kemajuan institusi.(bs)