Pakar UNAND: Iran di Titik Api, Perebutan Energi dan Logika Ketakutan Global - Sumbar19.com | Mewartakan Dari Penjuru 19 Daerah
arrow_upward

Pakar UNAND: Iran di Titik Api, Perebutan Energi dan Logika Ketakutan Global

Minggu, 01 Maret 2026, 13.21 WIB

 

Pakar Hubungan Internasional Universitas Andalas, Sofia Trisni.

PADANG — Serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026 bukan sekadar eskalasi militer biasa. Di balik dentuman rudal, tersimpan pertarungan geopolitik yang menyentuh urat nadi energi dunia.

Hal itu ditegaskan Pakar Hubungan Internasional sekaligus Sekretaris Prodi HI Universitas Andalas, Sofia Trisni, dalam analisisnya.

Menurut Sofia, untuk memahami konflik ini, publik harus melihat peta strategis global—bukan sekadar dinamika militer sesaat.

“Iran berada di posisi yang sangat menentukan, terutama karena berbatasan langsung dengan Selat Hormuz,” ujarnya.

Selat Hormuz adalah satu-satunya jalur keluar minyak dari Teluk Persia ke pasar global. Sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melintasi perairan sempit tersebut.

Jika jalur ini terganggu, pasokan energi global bisa terguncang. Harga minyak berpotensi melonjak, memicu efek domino ke industri Eropa dan negara-negara Barat.

“Iran memiliki leverage geopolitik yang sangat besar. Jika jalur itu ditutup, pasokan energi global bisa terhenti,” tegas Sofia.

Bayang-Bayang Sejarah dan Program Nuklir

Sofia menilai serangan tersebut tak bisa dipahami secara sederhana sebagai serangan pencegahan (pre-emptive strike). Ada campuran faktor historis dan situasional.

Sebelum Revolusi Iran 1979, Iran adalah sekutu Barat. Namun setelah revolusi, hubungan berubah drastis—diwarnai embargo, sanksi ekonomi, hingga pembatasan teknologi selama puluhan tahun.

Ketegangan makin menguat seiring program nuklir Iran. Dalam perspektif security dilemma, langkah Iran meningkatkan kapasitas strategisnya justru memicu ketakutan di negara lain.

“Ketika negara yang dianggap tidak bersahabat mengembangkan senjata strategis, tingkat kecurigaan meningkat drastis,” ujarnya.

Target Operasi: Kurangi Ketakutan Barat

Menurut Sofia, target utama serangan adalah memperlambat atau menghentikan program nuklir Iran. Namun ia juga menyinggung kemungkinan agenda politik jangka panjang, termasuk preferensi terhadap kepemimpinan yang lebih kooperatif.

Baginya, konflik ini bukan sekadar rivalitas ideologis Barat vs non-Barat. Ini adalah soal geoekonomi dan geopolitik—tentang siapa mengendalikan stabilitas kawasan energi paling vital di dunia.

Ancaman Arm Race dan Balance of Power Baru

Eskalasi konflik berpotensi mendorong negara-negara sekitar meningkatkan kemampuan militer mereka. Situasi ini bisa memicu perlombaan senjata (arm race) regional dan mengubah struktur keamanan Timur Tengah menuju keseimbangan kekuatan baru (balance of power).

Namun demikian, Sofia menilai kemungkinan konflik berkembang menjadi perang dunia relatif kecil. Kerugian ekonomi global terlalu besar jika perang meluas.

Negara-negara besar seperti Eropa, Tiongkok, dan Rusia diperkirakan akan mendorong mediasi demi melindungi kepentingan energi dan perdagangan mereka .

“Konflik berkepanjangan tidak menguntungkan siapa pun. Tekanan untuk gencatan senjata biasanya muncul ketika kerugian ekonomi membesar,” katanya.

Bagi Sofia Trisni, serangan 28 Februari 2026 adalah benturan kepentingan strategis yang berakar pada sejarah panjang, ketakutan keamanan, dan perebutan kendali atas sumber daya vital dunia. Masa depan kawasan kini bergantung pada kemampuan para aktor global menahan diri dan merundingkan ulang keseimbangan kekuatan di wilayah paling sensitif di planet ini.(*)