![]() |
| Konflik bersenjata antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran masih terus terjadi. |
Jakarta,--Eskalasi konflik bersenjata antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran dilaporkan menelan korban jiwa dalam jumlah sangat besar sejak pecah pada Sabtu (28/2/2026). Serangan gabungan Washington dan Tel Aviv ke Negeri Persia terus berlanjut hingga hari ketiga dengan intensitas tinggi.
Lembaga Bulan Sabit Merah Iran dalam pernyataan awal menyebut sedikitnya 555 orang tewas di berbagai wilayah. Namun angka tersebut melonjak tajam berdasarkan data terbaru kelompok HAM Hengaw yang berbasis di Norwegia. Hingga hari ketiga, korban tewas disebut mencapai sedikitnya 1.500 orang, terdiri dari 200 warga sipil dan 1.300 anggota pasukan keamanan Iran.
Sekolah Diserang, Provinsi Hormozgan Berduka
Kekhawatiran terbesar tertuju pada meningkatnya korban sipil, terutama di Provinsi Hormozgan, Iran selatan. Serangan rudal dilaporkan menghantam sebuah sekolah dasar anak perempuan di Minab, menewaskan lebih dari 150 orang, termasuk anak-anak. Tragedi ini memicu kecaman luas dan memperdalam trauma masyarakat setempat.
Ancaman IRGC dan Gelombang Peringatan
Di tengah gempuran udara, warga di sejumlah kota menerima pesan singkat dari otoritas keamanan. Di Sanandaj, Kurdistan Iran, organisasi intelijen Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) memperingatkan bahwa setiap aktivitas di jalanan akan dianggap sebagai bentuk kerja sama dengan musuh.
Pemerintah Iran menyatakan langkah tegas itu untuk mencegah aksi teror dan kerusuhan. Namun sejumlah warga menilai pesan tersebut justru mempersempit ruang gerak masyarakat yang ingin menyelamatkan diri dari zona bahaya.
Teheran Mencekam, Internet Lumpuh
Di ibu kota Teheran, situasi dilaporkan sangat mencekam. Pemadaman internet hampir total terjadi saat serangan udara terus mengguncang kota. Seorang mahasiswa mengungkapkan kepada The Guardian bahwa warga kesulitan berkomunikasi dan memobilisasi diri karena jalanan cepat berubah menjadi zona berbahaya.
“Teheran dibom dengan sangat hebat. Kami tidak tahu di mana posisi IRGC dan itu menjadi risiko besar bagi orang biasa,” ujarnya.
Listrik Padam, Penjara Berguncang
Di Mahabad, aliran listrik dilaporkan terputus total setelah serangan udara menghantam wilayah tersebut. Sementara di Urmia, narapidana menempelkan lakban di jendela sel untuk meredam suara ledakan yang terus menggema di sekitar kompleks penjara.
Kritik juga datang dari Hiwa Bahrami, Kepala Departemen Hubungan Luar Negeri Partai Demokrat Kurdistan Iran. Ia menuduh pemerintah menempatkan pangkalan militer di tengah kawasan padat penduduk, sehingga warga sipil berada dalam risiko besar.
Warga Mengungsi, Ketakutan Menghantui
Intensitas serangan membuat warga Teheran berbondong-bondong menuju kota-kota kecil untuk mencari perlindungan. Asap hitam membumbung di langit ibu kota, bangunan runtuh, dan suara ledakan menjadi pemandangan harian.
Seorang mantan jurnalis bernama Matin mengaku diliputi rasa takut dan dilema. Ia mengkritik pemerintah, namun juga khawatir serangan udara akan semakin banyak merenggut korban tak bersalah.
“Kami ingin kebebasan, tetapi melihat anak-anak dan warga sipil menjadi korban bukan sesuatu yang bisa dirayakan,” katanya.
Konflik yang terus membesar ini tidak hanya memperdalam luka sosial dan politik di Iran, tetapi juga memicu kekhawatiran global akan stabilitas kawasan dan dampaknya terhadap ekonomi dunia. (*/bs)
