![]() |
| Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah saat menyampaikan sambutan pada Musrenbang Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Sumbar Tahun 2027 di Auditorium Gubernuran Sumbar, Rabu (8/4/2026). |
PADANG – Pemerintah Provinsi Sumatera Barat menegaskan langkah besar untuk bangkit dari tekanan pascabencana dengan mengakselerasi investasi sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi daerah.
Komitmen itu mengemuka dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Sumbar Tahun 2027 di Auditorium Gubernuran Sumbar, Rabu (8/4/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri Gubernur Mahyeldi Ansharullah, Wakil Gubernur Vasco Ruseimy, serta Ketua DPRD Sumbar Muhidi. Turut hadir perwakilan pemerintah pusat, di antaranya Deputi Bidang Pembangunan Kewilayahan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Medrilzam, serta perwakilan Kementerian Pekerjaan Umum, Krisno Yuwono, bersama para kepala daerah se-Sumbar.
Dalam sambutannya, Mahyeldi menegaskan Musrenbang bukan sekadar agenda rutin, melainkan wadah menyatukan arah pembangunan dengan tema “Serempak Bergerak: Transformasi Ekonomi Berbasis Investasi”.
“Kita ingin memastikan pembangunan tidak hanya tumbuh, tetapi juga berdampak nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, Sumbar menghadapi tantangan berat pascabencana hidrometeorologi pada akhir 2025, dengan total kerugian mencapai Rp33,55 triliun dan kebutuhan pemulihan mendesak sebesar Rp21,44 triliun. Dampaknya meluas, mulai dari korban jiwa, kerusakan infrastruktur, hingga terganggunya sektor pertanian yang menjadi penopang ekonomi daerah.
Meski demikian, Mahyeldi menyebut Sumbar masih memiliki daya tahan yang kuat. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tercatat 77,27 dan tingkat kemiskinan berhasil ditekan menjadi 5,31 persen. Namun, pertumbuhan ekonomi yang masih berada di angka 3,37 persen menjadi tantangan yang harus dikejar.
“Kita tidak bisa lagi bergerak biasa. Harus ada lompatan besar,” tegasnya, seraya menargetkan pertumbuhan ekonomi mencapai 6,9 persen pada 2026–2027.
Wakil Gubernur Sumbar Vasco Ruseimy menekankan bahwa investasi menjadi kunci utama pemulihan ekonomi dan akselerasi pembangunan. Sejumlah proyek strategis disiapkan, mulai dari pembangunan jalan tol Padang–Pekanbaru Toll Road, Fly Over Sitinjau Lauik, pengembangan Pelabuhan Teluk Tapang, hingga proyek energi panas bumi.
Selain infrastruktur, pengembangan pariwisata unggulan seperti Kepulauan Mentawai dan Kawasan Mandeh juga menjadi prioritas untuk menarik investasi dan meningkatkan devisa daerah.
Vasco menyebutkan, investasi di Sumbar ditargetkan mencapai Rp13,3 triliun pada 2027 dan meningkat hingga Rp18,8 triliun pada 2030.
“Investasi tidak hanya membangun fisik, tetapi juga harus menjadi instrumen pemulihan ekonomi masyarakat melalui penyerapan tenaga kerja,” ujarnya.
Dari sisi legislatif, Ketua DPRD Sumbar Muhidi menekankan pentingnya efisiensi anggaran dan konsistensi perencanaan. Ia memastikan DPRD akan mengawal penyusunan RKPD agar tetap responsif terhadap kebutuhan masyarakat, khususnya dalam penguatan ketahanan pangan dan rehabilitasi pascabencana.
Sementara itu, Deputi Bidang Pembangunan Kewilayahan Bappenas Medrilzam mengingatkan potensi ancaman perubahan iklim, termasuk fenomena “Godzilla El Nino” yang berisiko memicu kekeringan ekstrem pada 2026–2027.
“Tahun 2027 adalah momentum penting akselerasi ekonomi nasional. Jika terlewat, target pertumbuhan 8 persen pada 2029 akan sulit dicapai,” katanya.
Dukungan juga datang dari Kementerian Pekerjaan Umum melalui strategi PU 608 yang berfokus pada efisiensi investasi, pengelolaan sampah berbasis energi (waste to energy), serta penguatan kedaulatan air.
Di sisi lain, Kepala BPS Sumbar, Nurul Hasanudin, menyoroti pentingnya data dalam perencanaan pembangunan, termasuk melalui Sensus Ekonomi 2026 untuk menangkap potensi ekonomi digital dan kreatif.
Secara keseluruhan, Musrenbang RKPD 2027 menyepakati arah pembangunan Sumbar ke depan yang berfokus pada hilirisasi agroindustri, digitalisasi UMKM, serta pengembangan pariwisata berkualitas.
Dengan sinergi kuat antara pemerintah pusat dan daerah, Sumatera Barat optimistis mampu bangkit dari bencana dan melesat menuju pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, inklusif, dan berkelanjutan.(bs)
