Kisah Rahmi Yatul Fahmi, Anak KIP Kuliah yang Ditawari Rektor UNAND Jadi Asisten Peneliti Pascasarjana - Sumbar19.com | Mewartakan Dari Penjuru 19 Daerah
arrow_upward

Kisah Rahmi Yatul Fahmi, Anak KIP Kuliah yang Ditawari Rektor UNAND Jadi Asisten Peneliti Pascasarjana

Minggu, 10 Mei 2026, 20.53 WIB
Rektor Universitas Andalas Efa Yonnedi  bersama Rahmi Yatul Fahmi 

Di balik toga dan senyum para wisudawan pada Wisuda II Universitas Andalas, Sabtu (9/5), tersimpan kisah perjuangan yang tak selalu mudah diucapkan. Ada cerita tentang kehilangan, keterbatasan, keteguhan, sekaligus harapan yang tumbuh perlahan di tengah keadaan yang tidak mudah.

Nama itu adalah Rahmi Yatul Fahmi. Perempuan kelahiran 24 Juli 2003 tersebut berdiri di podium Auditorium Universitas Andalas mewakili ribuan wisudawan menyampaikan sambutan. Suaranya tenang, tetapi kata-katanya membuat ruangan beberapa kali hening.

Rahmi bukan hanya berbicara tentang nilai akademik atau keberhasilan menyelesaikan kuliah. Ia bercerita tentang perjalanan hidup yang penuh keterbatasan. Tentang bagaimana pendidikan menjadi satu-satunya jalan untuk mengubah masa depan.

Berasal dari Kecamatan Limo Kaum, Kabupaten Tanah Datar, Rahmi tumbuh dari keluarga sederhana. Ia menempuh pendidikan di Universitas Andalas yang berjarak sekitar 112 kilometer dari kampung halamannya berkat bantuan program KIP Kuliah yang menurutnya menjadi “jembatan harapan” untuk melanjutkan mimpi.

“Pendidikan bukan hanya milik mereka yang mampu secara ekonomi, tetapi kesempatan bagi mereka yang mau berjuang dan tidak menyerah,” ujar Rahmi dalam sambutannya.

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun bagi Rahmi, pendidikan bukan sekadar ruang belajar. Pendidikan adalah cara bertahan hidup.

Selama kuliah di Fakultas Peternakan Universitas Andalas, Rahmi tidak hanya fokus menyelesaikan studi. Ia aktif mengikuti berbagai kegiatan kemahasiswaan dan kompetisi nasional. Empat penghargaan tingkat nasional berhasil ia raih. Ia juga lulus sebagai salah satu wisudawan terbaik dengan IPK 3,98 dan masa studi 3 tahun 7 bulan.

Namun bagi Rahmi, keberhasilan tidak selalu tentang angka dan piala.

“Keberhasilan juga tentang bagaimana kita mampu bertahan, bangkit, dan terus berjuang menyelesaikan setiap proses selama perkuliahan,” katanya.

Suasana Auditorium berubah haru ketika Rahmi mulai berbicara tentang kedua orang tuanya yang telah meninggal dunia. Dengan suara bergetar, ia mengaku tidak memiliki lagi sosok ayah dan ibu yang bisa menyaksikan langsung wisudanya dari kursi tamu undangan.

“Saya mungkin tidak punya orang tua yang bisa melihat saya hari ini. Tidak ada yang duduk di kursi sana sambil berkata, ‘Itu anakku’. Tapi saya percaya, di tempat terbaik yang Tuhan siapkan, mereka melihat saya,” tuturnya.

Sejumlah wisudawan terlihat menundukkan kepala. Beberapa tamu undangan tampak mengusap mata.

Bagi Rahmi, wisuda bukan hanya tentang dirinya. Ada pengorbanan kakak, keluarga, dan orang-orang yang selama ini membantunya bertahan hingga titik itu.

Ia mengatakan, perjalanan setelah wisuda justru baru dimulai. Gelar sarjana, menurutnya, harus membawa manfaat bagi masyarakat dan lingkungan sekitar.

“Hari ini bukanlah akhir dari perjuangan kita, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk hidup yang lebih berarti,” katanya.

Namun siapa sangka, momen yang paling diingat Rahmi justru datang di penghujung pidatonya. Saat itu, ia menutup sambutan dengan dua pantun ringan agar suasana tidak terlalu tegang.

Ide pantun itu, katanya, muncul dari sang kakak.

“Waktu itu kakak bilang, coba kasih pantun biar nggak terlalu boring. Karena kan sudah di akhir acara, takut wisudawan dan tamu undangan sudah capek,” ujarnya sambil tersenyum.

Di tengah suasana haru pidato wisuda, Rahmi sempat mencairkan keadaan lewat pantun sederhana.

Pergi ke Padang membeli sop iga,

Makannya sambil pakai kerupuk.

Wisuda ini bikin kita lega,

Karena akhirnya bebas dari tugas yang menumpuk.

Pantun itu langsung disambut tawa wisudawan.

Namun pantun berikutnya justru menjadi momen yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Batusangkar sejuk di pagi hari,

Terkenal dengan kota budayanya.

Teruntuk Bapak Rektor yang kami hormati,

Adakah kesempatan untuk melanjutkan S2?

Rahmi mengaku pantun itu sebenarnya hanya penutup ringan agar suasana tidak terlalu tegang.

“Awalnya cuma buat mencairkan suasana karena acara sudah panjang,” katanya.

Namun tak disangka, Rektor Universitas Andalas, Efa Yonnedi, langsung merespons pantun tersebut dan memberi peluang kepadanya menjadi asisten riset di Pascasarjana Universitas Andalas.

“Saya benar-benar tidak menyangka,” ujar Rahmi.

Usai prosesi wisuda, Rahmi mengaku langsung dihampiri Rektor yang menyampaikan apresiasi atas pidatonya.

“Saya jujur nggak expect sama sekali. Setelah parade penutupan, Pak Rektor langsung bilang terima kasih untuk kata sambutan tadi dan langsung menanggapi pantunnya,” katanya.

Bagi Rahmi, tawaran tersebut menjadi hadiah yang tak pernah ia rencanakan sebelumnya.

Di balik capaian akademiknya, Rahmi juga menaruh perhatian besar pada dunia riset peternakan. Dibawah Bimbingan *Dosen Pembimbing yang Hebat (Prof. Dr. Ir. Gita Ciptaan, MP dan Prof. Dr. Ir. Mirnawati, MS*) Penelitian skripsinya membahas Alternatif untuk pemanfaatan BIS tanpa melakukan proses fermentasi dengan pemberian Probiotik untuk ayam broiler melalui kombinasi probiotik Lactobacillus fermentum dan Bacillus subtilis.

Menurut Rahmi, BIS memiliki potensi besar sebagai bahan pakan, tetapi kandungan serat kasarnya cukup tinggi sehingga sulit dicerna ayam apabila tidak diolah dengan baik.

“Nah, tantangannya bagaimana BIS yang serat kasarnya tinggi ini tetap bisa dimanfaatkan tanpa harus dilakukan pengolahan yang rumit,” katanya.

Melalui probiotik yang mengandung enzim selulase dan mannanase, serat kasar dalam BUS itu dapat dipecah sehingga lebih mudah diserap ayam broiler.

“Jadi probiotik ini membantu memecah serat kasar tadi sehingga BIS yang awalnya sulit dicerna bisa dimanfaatkan lebih optimal sebagai pakan ayam,” ujarnya.

Menariknya, dunia peternakan awalnya bukan pilihan utama Rahmi. Fakultas Peternakan UNAND merupakan pilihan keduanya saat masuk kuliah. Namun setelah menjalaninya, ia justru menemukan masa depan yang menurutnya sangat menjanjikan.

“Setelah dijalani, ternyata peternakan itu punya peluang kerja yang besar. Bahkan kalau tidak menjadi pegawai, kita masih bisa membuka usaha sendiri,” katanya.

“Tak lupa, saya juga menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh keluarga besar Fakultas Peternakan Universitas Andalas yang telah menjadi tempat saya belajar, bertumbuh, dan menempa diri. Terima kasih kepada para dosen yang dengan tulus membimbing, tenaga kependidikan yang selalu membantu setiap proses perjalanan akademik, serta lingkungan kampus yang telah memberikan begitu banyak pengalaman, pelajaran, dan kenangan berharga," ungkapnya.

"Fakultas ini bukan hanya tempat menuntut ilmu, tetapi juga rumah kedua yang membentuk saya menjadi pribadi yang lebih kuat dan siap menghadapi masa depan serta mentor dan teman teman yang berjuang bersama,” terangnya.

Menurut Rahmi, sektor peternakan akan selalu dibutuhkan karena berkaitan langsung dengan kebutuhan pangan masyarakat sehari-hari.

“Selama orang masih makan ayam, telur, dan susu, peternakan akan tetap berjalan,” ujarnya.

Setelah lulus sarjana, Rahmi berencana melanjutkan pendidikan ke jenjang magister. Namun ia berharap tetap bisa memperoleh dukungan beasiswa karena kondisi ekonomi keluarga yang terbatas.

"Saya memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 maupun S3 sebagai bentuk komitmen untuk terus belajar dan mengembangkan diri. Dengan dukungan besar dari kakak dan keluarga saya, saya juga berharap dapat memperoleh kesempatan melalui program beasiswa agar cita-cita tersebut dapat terwujud,”katanya.

Rektor Universitas Andalas, Efa Yonnedi, menilai Rahmi menjadi contoh mahasiswa penerima KIP Kuliah yang mampu memanfaatkan kesempatan pendidikan dengan baik.

“Rahmi ini contoh mahasiswa penerima KIP Kuliah yang mampu membuktikan bahwa kesempatan yang diberikan bisa melahirkan banyak prestasi,” ujarnya.

Menurut Efa, Rahmi tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki semangat belajar dan kemampuan riset yang baik. Karena itu, pihak kampus memberikan kesempatan kepadanya untuk terlibat dalam kegiatan penelitian di Pascasarjana Universitas Andalas.

“Kami melihat Rahmi memiliki semangat belajar dan potensi riset yang baik, sehingga kami berharap kesempatan ini bisa menjadi jalan untuk pengembangan akademiknya ke depan,” katanya.

Di tengah banyak cerita tentang keterbatasan yang sering berakhir putus asa, Rahmi justru menunjukkan hal sebaliknya. Bahwa dari keluarga sederhana, kehilangan orang tua, dan kehidupan yang serba terbatas, mimpi tetap bisa tumbuh selama seseorang tidak berhenti berjuang.(bs)