![]() |
| Direktur PNP Revalin Herdianto menyampaikan sambutan pada pembukaan ICo-ASCNITech 2026 yang diikuti 86 peserta secara Hybrid, Rabu (26/8) |
PADANG, — Politeknik Negeri Padang (PNP) kembali memperkuat jejaring akademik internasional melalui International Conference on Applied Sciences, Information and Technology (ICo-ASCNITech) 2026.
Konferensi yang memasuki penyelenggaraan ketujuh tersebut diikuti 86 peserta dari Indonesia dan sejumlah negara. Peserta internasional didominasi akademisi dan peneliti dari Malaysia.
Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama PNP dengan Politeknik Ibrahim Sultan (PIS), Johor, Malaysia, yang pelaksanaannya dilakukan secara bergantian antara Padang dan Johor.
Ketua Panitia ICo-ASCNITech 2026, Alhapen Ruslin Chandra, mengatakan konferensi tersebut menjadi salah satu bentuk nyata kerja sama PNP dengan PIS yang terus dipertahankan hingga penyelenggaraan ketujuh.
“Ini konferensi ketujuh yang kita adakan bekerja sama dengan Politeknik Ibrahim Sultan Malaysia di Johor. Penyelenggaraannya selang-seling, setahun di Padang dan setahun di Johor,” kata Alhapen usai pembukaan ICo-ASCNITech 2026 di Gedung C Lantai 2 PNP, Rabu (26/8).
Menurutnya, PIS berperan sebagai co-host yang membantu mempromosikan konferensi di Malaysia. Sementara PNP bertanggung jawab melakukan promosi dan menjaring peserta dari Indonesia.
ICo-ASCNITech pertama kali digelar pada 2017. Namun, pelaksanaannya sempat terhenti akibat pandemi Covid-19 dan keterbatasan anggaran.
“Pada saat COVID kita mungkin tidak ada, kemudian beberapa tahun yang lalu kita juga vakum karena ada keterbatasan anggaran. Jadi ini yang ketujuh dan alhamdulillah kita bisa mengadakan di Kota Padang,” ujarnya.
Tahun ini, sebanyak 86 presenter memaparkan hasil penelitian mereka. Selain peserta dari Indonesia dan Malaysia, konferensi juga menghadirkan pembicara utama dari Filipina.
Semula terdapat empat keynote speaker yang dijadwalkan hadir. Namun, satu di antaranya terkendala jaringan internet di negaranya. Tiga keynote speaker yang memberikan paparan yakni Prof. Yuli Yetri dari Indonesia, Prof. Richard dari Filipina, serta Anwar Saleh Aliapan, PhD dari Malaysia.
Alhapen mengatakan konferensi tersebut tidak sekadar menjadi tempat mempresentasikan hasil penelitian. Lebih jauh, forum internasional itu diharapkan menjadi ruang bertukar gagasan sekaligus membuka peluang kolaborasi penelitian lintas negara.
“Harapannya kegiatan ini bisa menjadi ajang untuk mempresentasikan riset-riset kawan-kawan, baik di Indonesia maupun luar negeri, sehingga bisa bertukar pikiran untuk lebih mengembangkan kemampuan, terutama dalam riset,” katanya.
Ia menambahkan, semakin luas keterlibatan akademisi dari berbagai negara, semakin besar pula peluang terbentuknya kolaborasi baru yang dapat meningkatkan kualitas dan dampak penelitian.
Dorong Publikasi dan Kolaborasi Internasional
Direktur PNP Revalin Herdianto mengatakan ICo-ASCNITech juga menjadi wadah bagi dosen PNP untuk mempublikasikan hasil penelitian mereka.
PNP, kata Revalin, memiliki kebijakan internal yang mewajibkan dosen yang melakukan penelitian untuk mempublikasikan hasil karyanya melalui forum ilmiah, termasuk konferensi tersebut.
“Dosen-dosen kita yang melakukan penelitian kita wajibkan untuk mempublikasikan hasil pekerjaannya di konferensi ini. Sehingga banyak dosen kita yang mempublikasikan penelitiannya di sini,” ujarnya.
Namun, menurut Revalin, kebijakan publikasi tersebut tidak semata-mata untuk memenuhi tuntutan akademik. Lebih penting lagi, hasil penelitian yang dipresentasikan dapat menjadi bahan pembelajaran bagi peneliti lain sekaligus membuka peluang kerja sama.
“Dosen kita mempublikasikan pekerjaannya, kemudian kawan-kawan dari Malaysia dan tempat lain juga bisa belajar dari peserta kita. Kalau ada yang cocok, nanti bisa dibuat kolaborasi,” katanya.
Ia mengakui membangun kolaborasi penelitian lintas negara membutuhkan proses. Meski demikian, PNP terus mendorong kerja sama tersebut, tidak hanya dengan Malaysia, tetapi juga dengan Filipina dan sejumlah negara lainnya.
“Kita banyak international collaboration sekarang,” ujarnya.
Ke depan, PNP juga menargetkan kualitas ICo-ASCNITech terus ditingkatkan, terutama dari sisi publikasi hasil konferensi. Prosiding konferensi diharapkan dapat terindeks sehingga meningkatkan reputasi sekaligus daya tarik ICo-ASCNITech bagi peneliti dari berbagai negara.
“Kita akan tingkatkan kualitas proceeding. Kita berharap proceeding kita terindeks supaya konferensi ini lebih memiliki daya tarik yang lebih besar dan semakin banyak menarik minat dari banyak negara,” katanya.
Promosikan Padang dan Sumbar
ICo-ASCNITech 2026 juga dimanfaatkan sebagai momentum memperkenalkan Kota Padang dan Sumatera Barat kepada peserta internasional.
Selain mengikuti agenda akademik, peserta diarahkan menikmati kuliner, mengunjungi destinasi wisata dan mengenal kekayaan budaya Minangkabau.
Revalin mengatakan aspek pariwisata dan kuliner memang bukan tujuan utama konferensi. Namun, keduanya menjadi nilai tambah dalam penyelenggaraan konferensi internasional di Padang.
“Conference is the core of the business, but then culinary, tourism and visit is like bonus. Tapi ini penting,” katanya.
Menurutnya, Sumatera Barat memiliki kekuatan pada sektor kuliner dan pariwisata yang dapat diperkenalkan kepada komunitas akademik internasional.
“Kita selalu manfaatkan event conference ini sebagai host untuk memperkenalkan the beauty of Padang kepada visitors dan participants,” ujarnya.
Dengan demikian, konferensi tidak hanya menghasilkan pertukaran pengetahuan dan peluang kerja sama riset, tetapi juga menjadi sarana memperkenalkan potensi Padang dan Sumatera Barat kepada masyarakat internasional.
Kerja Sama PNP-PIS Merambah Inovasi Mahasiswa
Timbalan Pengarah Governan & Strategik Politeknik Ibrahim Sultan, Tn. Haji Hamzah bin Zakaria, mengatakan ICo-ASCNITech merupakan salah satu bentuk utama kerja sama PIS dengan PNP.
Namun, hubungan kedua institusi tidak berhenti pada konferensi. Kerja sama juga diperluas melalui program mahasiswa dan kegiatan inovasi.
“Selain daripada konferensi, kita juga ada kerja sama pelajar-pelajar di sini. Baru-baru ini kita mengadakan satu program inovasi bernama REBEK, di mana politeknik kita menjadi host dan mengundang salah satu politeknik untuk menjadi peserta,” kata Hamzah.
Program tersebut melibatkan peserta dari sejumlah negara, termasuk Malaysia, Indonesia, Singapura dan Filipina. Dari Indonesia, PNP dan sejumlah politeknik dari Batam turut berpartisipasi.
Hamzah menilai berbagai kegiatan bersama tersebut penting untuk mempererat hubungan antarinstitusi pendidikan vokasi kedua negara. Mahasiswa tidak hanya mendapatkan pengalaman internasional, tetapi juga kesempatan bertukar pengetahuan dan membangun jejaring.
Ia juga mengapresiasi perkembangan PNP yang dinilainya memiliki sejumlah keunggulan, termasuk lingkungan kampus, jumlah mahasiswa serta keberadaan mahasiswa internasional.
“Yang saya lihat dari perspektif institusi, Politeknik Padang adalah satu institusi yang begitu indah, aman, mempunyai pelajar yang begitu ramai, serta mempunyai pelajar internasional,” ujarnya.
Menurut Hamzah, keberadaan mahasiswa internasional menunjukkan PNP telah mengambil langkah cukup jauh dalam membangun jejaring global.
“Bagi kami, ini menunjukkan satu politeknik yang sudah mengambil langkah yang sudah jauh,” katanya.
Ia berharap hubungan PNP dan PIS terus berkembang melalui konferensi, pertukaran mahasiswa, program inovasi maupun berbagai bentuk kolaborasi lainnya.
Dengan kerja sama yang semakin luas, kedua institusi diharapkan mampu saling memperkuat kapasitas sekaligus membuka lebih banyak kesempatan bagi mahasiswa dan sivitas akademika untuk berkiprah dalam forum internasional.
(bs)
Foto: Pembukaan ICo-ASCNITech 2026 digelar di Gedung C Lantai 2 PNP, Rabu (26/8).
.
