![]() |
| Sebanyak 125 korban meninggal dan 85 orang hilang akibat bencana hidrometeorologi yang melanda sejumlah kabupaten/kota di Sumbar |
Padang, —Pemerintah Provinsi Sumatera Barat mencatat 125 korban meninggal dan 85 orang hilang akibat bencana hidrometeorologi yang melanda sejumlah kabupaten/kota. Data diperkirakan meningkat karena pencarian masih terus berlangsung di lokasi-lokasi terisolasi.
Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Barat, Arry Yuswandi, menyampaikan berdasarkan laporan Pusdalops BPBD hingga 29 November 2025 pukul 24.00 WIB, banjir, longsor, dan cuaca ekstrem menyebabkan kerusakan besar serta korban jiwa di berbagai wilayah.
"Bencana kali ini memberikan dampak sangat luas. Sejumlah daerah melaporkan korban meninggal dunia, warga hilang, dan puluhan ribu jiwa mengungsi," sebutnya terkait perkembangan terbaru penanganan bencana hidrometeorologi yang melanda hampir seluruh kabupaten/kota di Sumbar, Sabtu (29/11/2025).
Ia menyebutkan, korban meninggal paling banyak tercatat di Kabupaten Agam dengan 87 orang, disusul Kota Padang Panjang sebanyak 17 orang. Sementara Padang Pariaman melaporkan 8 korban meninggal, ditambah 26 korban lain yang ditemukan hanyut di aliran Sungai Batang Anai dan diduga berasal dari wilayah terdampak di hulu.
"Di Kota Padang, korban meninggal tercatat 10 orang, sedangkan di Tanah Datar 2 orang, dan Pasaman Barat 1 orang," jelasnya.
Selain korban jiwa, puluhan warga masih dinyatakan hilang, terutama di Kabupaten Agam dan Pasaman Barat.
Sejumlah daerah mencatat tingginya jumlah pengungsi. Pesisir Selatan menjadi wilayah dengan pengungsi terbanyak, yaitu 82.315 jiwa. Kota Padang melaporkan 18.208 jiwa mengungsi, sementara Tanah Datar mencatat 6.836 jiwa. Pengungsian juga terjadi di Agam, Solok, dan Kabupaten Solok Selatan.
“Sebaran dampak sangat luas. Pemerintah provinsi terus memadukan data kabupaten/kota untuk penanganan secara terkoordinasi,” ujar Arry.
Ia menjelaskan, kerusakan rumah warga terjadi hampir di seluruh daerah. Di Padang Pariaman, tercatat 4.054 rumah terendam, 13 rumah hanyut, serta sejumlah rumah rusak berat dan sedang. Di Pasaman Barat, lebih dari 2.118 rumah terendam, dan sejumlah rumah mengalami kerusakan struktural.
"Di Kota Padang, terdapat 28 rumah rusak berat, 79 rusak sedang, dan puluhan lainnya rusak ringan. Kerusakan juga terjadi di Tanah Datar, Solok, Kabupaten Solok, dan beberapa daerah lain," ungkapnya.
Fasilitas umum yang rusak meliputi puluhan sarana pendidikan, fasilitas kesehatan, tempat ibadah, jembatan, irigasi, hingga jalan lintas yang terputus di sejumlah kecamatan.
Sejumlah daerah telah menyampaikan estimasi kerugian. Padang Pariaman melaporkan kerugian sementara sebesar Rp284,1 miliar, disusul Pesisir Selatan sebesar Rp262,9 miliar. Daerah lain seperti Pasaman Barat, Solok Selatan, dan Limapuluh Kota juga telah merilis estimasi kerugian, sementara kabupaten/kota lainnya masih melakukan asesmen.
Arry menyebutkan bahwa nilai kerugian dipastikan meningkat seiring masuknya data dari wilayah terdampak yang aksesnya sebelumnya terputus.
Seluruh kabupaten/kota di Sumbar telah menetapkan status tanggap darurat dengan masa berlaku yang berbeda-beda. Pemerintah provinsi mengoordinasikan penyaluran logistik, pengerahan alat berat, dan pendataan lanjutan untuk memastikan seluruh wilayah terdampak mendapatkan bantuan.
“Kami memastikan seluruh sumber daya dikerahkan, terutama untuk membuka akses yang masih tertutup dan mempercepat distribusi logistik,” tegas Arry.
Ia menambahkan, kebutuhan mendesak saat ini mencakup pangan, pakaian, perlengkapan anak, serta dukungan bagi kelompok rentan. Data bantuan uang melalui rekening Sumbar Peduli Bencana masih dalam proses rekapitulasi. (bs)
