![]() |
| Kondisi pengungsi banjir dan longsor di SD 02 Cupak Tangah,Kecamatan Pauh, Kota Padang |
Padang, — Kecamatan Pauh menjadi salah satu wilayah dengan dampak terparah akibat banjir dan longsor yang melanda Kota Padang sejak beberapa hari terakhir. Data terbaru dari pemerintah kecamatan mencatat, lebih dari 1.500 warga terpaksa mengungsi di 12 titik pengungsian, belum termasuk ratusan mahasiswa yang juga terdampak.
Camat Pauh Titin Masfretin mengungkapkan, untuk korban jiwa di Kecamatan Pauh, tercatat satu orang meninggal dunia. Selain itu, masih ada dua warga yang hilang, satu perempuan dan satu laki-laki yang hingga kini masih dalam proses pencarian.
"Rumah yang terdampak lebih dari 700 unit, mulai dari yang hanyut, rusak berat, rusak sedang hingga rusak ringan. Bahkan lima rumah ibadah juga ikut rusak. Tiga jembatan semi permanen juga ikut hanyut, di Batu Busuk, di Gunung Nago, dan jembatan Kalawi di Koto Panjang,” jelasnya, Sabtu (29/11).
Terkait upaya penanganan terkini terus dilakukan, ia menyebutkan selain memastikan penyaluran bantuan logistik dan sembako untuk warga terdampak, alat berat juga telah dikerahkan ke Batu Busuk untuk menyingkirkan material yang menutup aliran sungai dan menghambat akses jalan.
“Semua bantuan terus tersalurkan, meskipun beberapa wilayah terisolir dan sulit dijangkau di bagian atas Batu Busuk yang hanya bisa diakses dengan sepeda motor dan berjalan kaki. Di sana ada sekitar 50–60 jiwa yang harus kita layani," jelasnya.
Ia menyampaikan terimakasih atas dukungan dari berbagai pihak terus mengalir untuk bahu membahu membantu penanganan saat bencana dan pascabencana yang terjadi.
“Bantuan baik dari unsur pribadi, organisasi, lembaga, pemerintah, maupun swasta masih terus berdatangan, dan itu kami data. Alhamdulillah logistik masih terpenuhi, meski distribusinya harus dilakukan dengan sabar karena kondisi medan yang berat," bebernya.
Ia menyebutkan, saat ini sebagian warga mulai kembali ke rumah, namun pemerintah kecamatan tetap mengimbau agar yang tempat tinggalnya belum aman bertahan di pengungsian.
“Terutama lansia, perempuan, dan anak-anak kita minta tetap di pengungsian. Kami harap semuanya tetap prioritaskan keselamatan,” tegasnya.
Ia menambahkan, saat ini para pengungsi butuh kepastian tempat tinggal sementara, sebab rumah mereka telah mengalami kerusakan akibat bencana banjir yang terjadi.
"Senin depan aktivitas sekolah kembali dimulai. Sejumlah sekolah yang dijadikan lokasi pengungsian akan digunakan untuk kegiatan proses belajar mengajar. Warga yang rumahnya hanyut atau rusak berat tentu belum bisa kembali. Tentu perlu disiapkan langkah lanjutan,” ungkapnya.
Pihaknya berharap warga tidak kembali membangun rumah di zona merah atau kawasan yang terdampak bencana banjir, karena mengingat risiko bencana yang sangat tinggi.
"Meskipun kejadian besar biasanya terjadi dalam rentang waktu panjang, pemerintah tidak ingin ada korban jiwa di kemudian hari," pungkasnya. (bs)
