![]() |
| Pengunjung memadati Buayan Kaliang di kawasan Kayu Aro di Kelurahan Bungus Barat, Kecamatan Bungus Teluk Kabung, Padang |
PADANG — Memasuki Hari Raya Idulfitri, kawasan Kayu Aro di Kelurahan Bungus Barat, Kecamatan Bungus Teluk Kabung, Padang berubah menjadi pusat keramaian. Daya tarik utamanya bukan wahana modern, melainkan Buayan Kaliang—ayunan tradisional yang digerakkan secara manual oleh tenaga manusia.
Bagi masyarakat setempat, Buayan Kaliang bukan sekadar permainan, tetapi simbol kemenangan setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan. Tradisi ini hanya hadir sekali dalam setahun, tepat saat Idulfitri, menjadikannya momen yang paling dinantikan, terutama oleh para perantau yang pulang ke kampung halaman.
Suasana di Kayu Aro pun selalu dipadati pengunjung selama libur lebaran. Gelak tawa anak-anak yang menaiki ayunan kayu raksasa berpadu dengan hangatnya suasana silaturahmi antarwarga yang saling melepas rindu.
“Ini adalah jantungnya lebaran di Bungus. Tanpa Buayan Kaliang, rasanya seperti ada yang kurang dalam tradisi mudik kami,” ujar Wiki, salah seorang warga.
Tidak hanya menghadirkan permainan tradisional, masyarakat bersama pemerintah setempat juga mengembangkan kawasan ini menjadi destinasi wisata keluarga. Berbagai fasilitas disediakan, mulai dari wisata kuliner, area bermain anak, hingga pojok mewarnai untuk mengasah kreativitas anak-anak.
Kemeriahan Buayan Kaliang menjadi bukti bahwa tradisi lokal yang terus dirawat mampu menjadi penggerak ekonomi sekaligus mempererat hubungan sosial di tengah masyarakat.
Bagi masyarakat yang berada di Padang, menikmati suasana sore di Bungus Barat sambil menyaksikan putaran Buayan Kaliang menjadi cara sederhana untuk merasakan esensi lebaran yang hangat dan penuh kebersamaan.(Viqi / Charlie)
