![]() |
| Rektor Universitas Andalas (UNAND) Efa Yonnedi, Ph.D., mewisuda lulusan pada Wisuda III Tahun 2026, di Auditorium Kampus Limau Manis, Minggu (12/7). |
Padang,- Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), tidak boleh membuat lulusan kehilangan kemampuan berpikir mandiri. Teknologi harus dimanfaatkan sebagai alat bantu, bukan pengganti peran manusia.
Pesan itu disampaikan Rektor Universitas Andalas (UNAND) Efa Yonnedi, Ph.D., pada Wisuda III Tahun 2026, di Auditorium Kampus Limau Manis, Minggu (12/7). Pada hari kedua wisuda tersebut, UNAND mewisuda 712 lulusan.
Para lulusan berasal dari Sekolah Pascasarjana, Fakultas Teknologi Informasi, Fakultas Kedokteran Gigi, Fakultas Farmasi, Fakultas Ilmu Budaya, Fakultas Teknik, dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Pada kesempatan tersebut, UNAND juga meluluskan dua doktor dari Program Studi Kebijakan Publik dan Sosiologi.
Sehari sebelumnya, Sabtu (11/7) UNAND mewisuda 677 lulusan yang berasal dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Keperawatan, Fakultas Teknologi Pertanian, Fakultas Peternakan, Fakultas Pertanian, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Fakultas Hukum, dan Fakultas Kedokteran.
"Selama dua hari pelaksanaan wisuda, Universitas Andalas telah meluluskan sebanyak 3.189 lulusan dari berbagai jenjang pendidikan," jelasnya.
Ia mengingatkan para lulusan agar tidak terlena oleh kemudahan teknologi. Menurutnya, Artificial Intelligence (AI) hanya berfungsi sebagai co-pilot, sedangkan manusia tetap menjadi "pilot" yang menentukan arah melalui kemampuan berpikir kritis, kreativitas, integritas, dan pengambilan keputusan
"Ananda diwisuda hari ini bukan karena bisa mendapat jawaban cepat. Ananda diwisuda karena telah belajar berpikir. Itu yang tidak bisa digantikan mesin," ujarnya.
Ia mengatakan, dunia kerja saat ini tengah menghadapi perubahan besar. Mengacu pada Global Risks Report 2026, tantangan global tidak hanya berasal dari bencana alam, tetapi juga konfrontasi geoekonomi, disinformasi, polarisasi sosial, hingga dampak perkembangan AI yang semakin kompleks.
"Kondisi tersebut menuntut lulusan perguruan tinggi memiliki kemampuan berpikir kritis, adaptif, dan tangguh menghadapi ketidakpastian;" terangnya.
Ia menegaskan bahwa perkembangan AI tidak boleh membuat lulusan kehilangan kemampuan berpikir mandiri. Teknologi, katanya, harus dimanfaatkan sebagai alat bantu, bukan pengganti peran manusia.
"AI dapat menjadi pendamping dalam bekerja, namun kendali utama tetap berada di tangan manusia," jelasnya.
Lebih lanjut, ia juga mengingatkan bahwa tantangan dunia kerja akan terus berubah seiring kemajuan teknologi. Karena itu, lulusan tidak cukup hanya mengandalkan kompetensi akademik, tetapi juga harus adaptif, inovatif, dan memiliki kemampuan memecahkan persoalan.
Selain mendorong lulusan memasuki dunia kerja profesional, UNAND juga ingin melahirkan lebih banyak wirausaha muda yang mampu menciptakan lapangan pekerjaan.
"Kami mendorong semakin banyak alumni Universitas Andalas menjadi entrepreneur atau pengusaha, karena melalui kewirausahaan mereka tidak hanya menciptakan peluang bagi dirinya sendiri, tetapi juga membuka lapangan kerja bagi orang lain," katanya.
Sementara bagi lulusan yang memiliki minat di bidang akademik dan riset, Efa mengajak untuk terus melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi agar dapat berkontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan.
"Bagi yang ingin menjadi saintis atau ilmuwan, teruslah melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi agar dapat memberikan kontribusi bagi kemajuan ilmu pengetahuan, masyarakat, dan bangsa," pesannya.
Ia berharap seluruh lulusan UNAND tidak hanya menjadi pribadi yang unggul secara akademik, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perubahan, menjunjung tinggi integritas, serta menjadi agen perubahan yang memberikan manfaat bagi masyarakat di tengah era transformasi digital.
Di tengah tantangan tersebut, UNAND justru mencatatkan berbagai capaian membanggakan. Tahun 2026, posisi UNAND dalam Times Higher Education (THE) Impact Rankings meningkat 200 peringkat, dari posisi 601 menjadi peringkat 401 dunia. Capaian tersebut, kata Efa, merupakan hasil kerja bersama seluruh sivitas akademika.
![]() |
| Rektor Universitas Andalas (UNAND) Efa Yonnedi, Ph.D., poto bersama jajaran usai Wisuda III Tahun 2026, di Auditorium Kampus Limau Manis, Minggu (12/7). |
Reputasi internasional UNAND juga terus menguat. Hal itu ditandai dengan meningkatnya jumlah mahasiswa asing yang memilih menempuh pendidikan di kampus tersebut. Selain itu, UNAND kembali dipercaya sebagai penyelenggara Beasiswa Kemitraan Negara Berkembang (KNB). Pada tahun ini, hampir 2.000 pendaftar dari berbagai negara mengikuti seleksi melalui UNAND, namun hanya sekitar 50 orang yang diterima.
Rektor UNAND Efa Yonnedi mengajak para wisudawan untuk terus belajar sepanjang hayat, menjaga integritas, serta menjadi lulusan yang berilmu, beradab, tangguh menghadapi perubahan, dan tetap berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan.
"Di zaman AI sekalipun, yang paling dibutuhkan bukan hanya kecerdasan, tetapi karakter, kejujuran, dan kemampuan mengambil keputusan dengan bijaksana," pesannya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa pendidikan tinggi bukan hanya milik mereka yang berasal dari keluarga mampu. Berbagai program beasiswa, terutama Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah, telah membuka kesempatan bagi mahasiswa dari keluarga kurang mampu untuk meraih gelar sarjana.
Menurut Efa, kisah Rahmadhini Hanafi mahasiswa Administrasi Publik FISIP UNAND, penerima beasiswa KIP Kuliah yang diwisuda sebagai lulusan terbaik UNAND hari ini menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan ekonomi bukan lagi penghalang untuk mengenyam pendidikan tinggi.
"Hari ini kita mendengarkan cerita Rahmadhini Hanafi mahasiswa yang berasal dari keluarga sederhana, ayahnya seorang nelayan, ibunya ibu rumah tangga, bahkan kedua orang tuanya tidak tamat SD. Berkat beasiswa KIP Kuliah, ia berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana dan menjadi sarjana pertama di keluarganya. Ini membuktikan bahwa pendidikan tinggi bukan hanya untuk orang yang kaya atau memiliki uang, tetapi terbuka bagi seluruh masyarakat," ujarnya.
![]() |
| Rektor Universitas Andalas (UNAND) Efa Yonnedi, Ph.D., poto bersama dengan sejumlah lulusan terbaik pada Wisuda III Tahun 2026, di Auditorium Kampus Limau Manis, Minggu (12/7). |
Efa menyebutkan, komitmen UNAND dalam memperluas akses pendidikan tercermin dari tingginya jumlah mahasiswa penerima bantuan pendidikan. Saat ini, sekitar satu dari empat mahasiswa UNAND memperoleh beasiswa dari berbagai sumber.
Beasiswa tersebut tidak hanya berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), seperti KIP Kuliah dan program afirmasi bagi mahasiswa Papua, tetapi juga didukung berbagai mitra.
"Selain beasiswa dari pemerintah, kami juga mendapat dukungan dari berbagai perusahaan dan lembaga, seperti Maybank, Mayapada, Bank Indonesia, Pertamina, dan lain-lain. Universitas Andalas juga menyalurkan beasiswa yang dibiayai dari hasil pengelolaan dana abadi universitas," jelasnya.
Ia berharap semakin banyak mahasiswa berprestasi dari keluarga kurang mampu dapat memanfaatkan berbagai skema bantuan tersebut sehingga kesempatan memperoleh pendidikan tinggi semakin terbuka dan mampu melahirkan generasi yang berkualitas serta berdaya saing.
"Ini menjadi bukti bahwa semakin banyak generasi muda memperoleh kesempatan mengenyam pendidikan tinggi di UNAND melalui berbagai jalur, termasuk program beasiswa yang tersedia," ujarnya.(bs)


.jpg)