![]() |
| Ruang literasi terbuka yang dihadirkan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Padang mulai menjadi daya tarik baru bagi masyarakat. |
PADANG — Ruang literasi terbuka yang dihadirkan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Padang mulai menjadi daya tarik baru bagi masyarakat. Berada di halaman Kantor Dispusip Kota Padang, taman baca tersebut menawarkan pengalaman membaca yang berbeda, yakni di ruang terbuka yang teduh, nyaman, dan dekat dengan suasana alam.
Sejumlah pengunjung mengaku lebih menikmati membaca di taman dibandingkan di dalam ruangan. Selain dapat mengakses berbagai koleksi buku, mereka juga bisa bersantai sambil menikmati suasana hijau di sekitar lokasi.
Laskar Lazuardi Syarif, siswa SMK Negeri 2 Pariaman, mengaku sengaja memanfaatkan taman baca tersebut karena suasananya lebih santai dibandingkan perpustakaan konvensional.
"Kalau di sini dingin, terbuka, dan adem. Kalau di dalam ruangan harus diam dan sunyi. Kadang juga terasa suntuk. Kalau di sini lebih santai dan lebih seru karena suasananya terbuka," ujarnya saat berkunjung ke halaman Kantor Dispusip Kota Padang, Sabtu (25/7).
Menurut Laskar, koleksi buku di taman baca sudah cukup menarik. Namun, ia berharap jumlahnya terus ditambah, terutama buku-buku bertema kisah kenabian yang menjadi bacaan favoritnya.
Ia juga mengusulkan agar konsep taman tetap dipertahankan dengan memperbanyak tanaman sehingga suasana menjadi lebih sejuk dan nyaman bagi para pengunjung.
Pendapat serupa disampaikan Saskia Mutia Zahra, siswi SMK Negeri 2 Pariaman. Menurutnya, menghadirkan buku di ruang terbuka merupakan inovasi yang mampu mendekatkan masyarakat, khususnya generasi muda, dengan budaya membaca.
"Menurut saya menarik karena tempatnya di luar. Jadi, orang yang sedang duduk di taman ini bisa membaca buku sekaligus menambah pengetahuan. Taman ini tidak hanya menjadi tempat beristirahat, tetapi juga bisa dimanfaatkan untuk membaca," katanya.
Sebagai bagian dari generasi Z, Saskia menilai konsep taman baca lebih mudah diterima anak muda karena menghadirkan suasana yang santai dan tidak kaku. Ia meyakini ruang literasi seperti ini dapat menjadi alternatif tempat berkumpul yang sekaligus menumbuhkan minat baca.
Meski demikian, Saskia berharap koleksi buku terus diperbanyak, terutama buku cerita dan dongeng untuk anak-anak agar taman baca dapat dinikmati oleh seluruh kalangan.
Respons positif para pengunjung tersebut menunjukkan keberadaan taman baca luar ruang tidak hanya berfungsi sebagai fasilitas membaca, tetapi juga menjadi ruang publik yang menghadirkan pengalaman literasi yang lebih terbuka, nyaman, dan dekat dengan masyarakat.(bs)
