Hendrajoni Pindah ke PSI, Pengamat Unand: Partai Gagal Mengikat Kader dengan Ideologi - Sumbar19.com | Mewartakan Dari Penjuru 19 Daerah
arrow_upward

Hendrajoni Pindah ke PSI, Pengamat Unand: Partai Gagal Mengikat Kader dengan Ideologi

Selasa, 03 Februari 2026, 06.53 WIB
Hendrajoni resmi diperkenalkan sebagai kader baru PSI dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PSI di Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (31/1/2026).

PADANG — Langkah politik Hendrajoni meninggalkan Partai NasDem dan bergabung dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) kembali membuka borok lama sistem kepartaian di Indonesia. Perpindahan tersebut dinilai bukan sekadar manuver personal, melainkan cerminan lemahnya ideologi dan rapuhnya kaderisasi partai politik.

Pengamat politik Universitas Andalas (Unand), Aidinil Zetra, menilai fenomena kader berpindah partai sudah menjadi pola berulang dalam politik nasional. Akar persoalannya, kata dia, terletak pada ideologi partai yang tidak cukup kuat mengikat loyalitas kader.

“Partai politik seharusnya memiliki disiplin kader yang kuat, dan itu hanya bisa dibangun di atas fondasi ideologi yang kuat. Ketika ideologi lemah, kader akan bersikap pragmatis dan lebih mengejar kepentingan jangka pendek, seperti jabatan dan kekuasaan,” ujar Aidinil.

Menurutnya, kader yang benar-benar memahami dan menghayati ideologi partai akan berjuang dengan energi dan semangat kolektif. Namun ketika ideologi hanya menjadi slogan, loyalitas pun mudah goyah dan keputusan politik ditentukan oleh kalkulasi untung-rugi.

Aidinil juga menyoroti persoalan mendasar lain, yakni terbaliknya fungsi partai politik di Indonesia. Alih-alih melahirkan tokoh dan pemimpin, partai justru kerap bergantung pada figur yang sudah jadi.

“Yang terjadi sekarang bukan partai menghasilkan tokoh, tapi tokoh menghasilkan partai. Ketika kalah dalam kontestasi internal, bukannya mendukung kader yang menang, justru keluar dan membangun atau mencari kendaraan politik baru,” jelasnya.

Fenomena tersebut, lanjut Aidinil, menjadi salah satu penyebab menjamurnya partai-partai baru di Indonesia. Banyak di antaranya lahir bukan karena kebutuhan ideologis atau visi perjuangan, melainkan karena kekecewaan elite dalam persaingan internal partai sebelumnya.

Lebih jauh, Aidinil mengungkapkan setidaknya tiga faktor utama yang menentukan apakah sebuah partai baru dapat bertahan dan eksis dalam kompetisi politik. Pertama, kekuatan manifesto dan ideologi partai yang benar-benar dipahami dan diinternalisasi oleh seluruh kader, bukan hanya elite.

“Struktur dan fondasi kepartaian harus kokoh. Ideologi harus hidup di kader, bukan berhenti di dokumen atau pidato,” tegasnya.

Faktor kedua adalah disiplin kader melalui proses kaderisasi yang serius dan berkelanjutan. Kader, kata Aidinil, tidak cukup hanya memegang kartu anggota, tetapi harus dibekali pelatihan, pendidikan politik, dan pembentukan karakter perjuangan.

Faktor ketiga adalah kekuatan mesin politik. Karena tujuan akhir partai adalah memenangkan pemilu, maka strategi elektoral harus dibangun dengan nafas panjang.

“Politik itu marathon, bukan sprint. Partai tidak boleh langsung ciut ketika kalah pemilu lalu berpindah ke partai yang lebih besar. Itu tanda lemahnya semangat elektoral,” ujarnya.

Dalam konteks PSI di Sumatera Barat, Aidinil menilai masa depan partai tersebut sangat ditentukan oleh kekuatan struktur, kualitas kader, dan efektivitas mesin politiknya. Ia mengakui, sejauh ini elektabilitas PSI di Sumbar belum terlihat signifikan.

“Kecenderungannya, PSI masih mencari tokoh-tokoh yang sudah jadi. Padahal idealnya, partai membangun tokoh dari proses kaderisasi yang sejalan dengan gagasan dan ideologi partai,” katanya.

Sementara itu, Hendrajoni yang selama ini dikenal sebagai pentolan Partai NasDem di Sumatera Barat resmi diperkenalkan sebagai kader baru PSI dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PSI di Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (31/1/2026).

Hendrajoni merupakan Bupati Pesisir Selatan dua periode, yakni 2016–2021 dan 2025–2030. Pada Pilkada serentak 2024, ia kembali maju bersama Risnaldi dan diusung enam partai politik, yakni NasDem, PPP, PAN, PDI Perjuangan, PBB, dan Partai Umat.

Sebelum bergabung dengan PSI, suami anggota DPR RI Fraksi NasDem, Lisda Hendrajoni, itu memiliki rekam jejak panjang di dunia politik. Ia pernah menjabat Ketua DPD PAN Kabupaten Pesisir Selatan pada 2016 dan Ketua DPW Partai NasDem Sumatera Barat pada 2019.(mb)