Dari Takbir ke Peradaban: Idulfitri di Semen Padang Sarat Makna - Sumbar19.com | Mewartakan Dari Penjuru 19 Daerah
arrow_upward

Dari Takbir ke Peradaban: Idulfitri di Semen Padang Sarat Makna

Minggu, 22 Maret 2026, 13.55 WIB
Ribuan jemaah memadati Plaza Kantor Pusat PT Semen Padang di kawasan Indarung untuk menunaikan Salat Idulfitri 1447 Hijriah, Sabtu (21/3/2026). 

PADANG — Ribuan jemaah memadati Plaza Kantor Pusat PT Semen Padang di kawasan Indarung untuk menunaikan Salat Idulfitri 1447 Hijriah, Sabtu (21/3/2026). Sejak pagi, lantunan takbir menggema, mengiringi langkah masyarakat yang datang dengan penuh sukacita.

Salat Idulfitri berlangsung khusyuk dan tertib. Kegiatan ini digelar PT Semen Padang bekerja sama dengan Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Kelurahan Indarung, serta dihadiri Direktur Utama Pri Gustari Akbar dan Direktur Operasi Andria Delfa.

Bertindak sebagai imam, Riko Febrianto memimpin jalannya salat, sementara khutbah disampaikan Guru Besar UIN Imam Bonjol Padang, Duski Samad, dengan tema Menjaga Jiwa Peradaban.

Direktur Utama PT Semen Padang, Pri Gustari Akbar, dalam sambutannya menegaskan bahwa Idulfitri bukan sekadar perayaan, melainkan momentum kembali kepada fitrah.

“Minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin. Semoga kita dipertemukan kembali dengan Ramadan berikutnya,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa kemenangan Idulfitri harus tercermin dalam sikap dan perilaku sehari-hari, baik dalam hubungan dengan Allah SWT maupun sesama manusia.

“Ini saat yang tepat untuk introspeksi, memperbaiki hubungan, dan mempererat silaturahmi,” katanya.

Pri juga memaparkan sejumlah program sosial perusahaan selama Ramadan, mulai dari Safari Ramadan bersama Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, penjualan sembako murah, hingga program mudik gratis.

“Kami berkomitmen untuk terus hadir dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” tegasnya.

Dari Ramadan Menuju Peradaban

Dalam khutbahnya, Duski Samad menegaskan bahwa Ramadan bukan sekadar peningkatan ibadah ritual, melainkan proses pembentukan karakter dan peradaban manusia.

“Idulfitri bukan akhir, tetapi awal untuk menjalani kehidupan yang lebih berkualitas,” ujarnya.

Ia menyampaikan tiga pesan utama agar nilai-nilai Ramadan tetap terjaga dalam kehidupan sehari-hari.

Pertama, menjaga integritas. Menurutnya, ketakwaan tidak hanya diwujudkan dalam ibadah, tetapi juga dalam ilmu, amal kebajikan, dan akhlak mulia. Ketahanan spiritual yang dibangun selama Ramadan harus tetap kokoh di tengah tantangan zaman.

Duski juga menyoroti krisis ketenangan jiwa di era modern. Ia menyebut zikir bukan sekadar ibadah, tetapi juga terapi spiritual yang mampu menghadirkan ketenangan batin.

Kedua, menjaga kewarasan dalam menghadapi tekanan hidup. Ia mengingatkan bahwa kehidupan penuh tantangan yang harus dihadapi dengan bijak, sembari tetap produktif dan mandiri secara ekonomi.

“Keberhasilan tidak hanya diukur dari capaian materi, tetapi juga dari integritas dan karakter,” katanya.

Ketiga, membangun jihad peradaban. Ia menjelaskan, jihad di era modern tidak terbatas pada peperangan, tetapi mencakup upaya membangun kehidupan yang lebih baik melalui pendidikan, ekonomi, teknologi, hingga kepedulian sosial.

“Jihad peradaban adalah membangun kehidupan yang adil, maju, dan bermartabat,” ujarnya.

Menurutnya, dalam dunia kerja, setiap individu yang bekerja dengan niat ibadah, kejujuran, dan profesionalitas sejatinya turut berkontribusi dalam membangun peradaban.

“Setiap pekerjaan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh adalah bagian dari ibadah,” pungkasnya.

Pelaksanaan Salat Idulfitri di lingkungan PT Semen Padang ini pun tidak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga refleksi bersama menuju kehidupan yang lebih bermakna dan beradab.(bs)